Indonesia, Negeri Pelangi dengan Berbagai Keberagaman

110
Anak-anak Kalimantan Tengah yang selalu ceria meskipun mereka tinggal di daerah terpencil

Saya sebut negara ini, Indonesia, sebagai Negeri Pelangi. Saya rasa sebutan atau julukan itu pantas diberikan pada negara kita ini, dan Indonesia pun pantas menyandang julukan sebagai Negeri Pelangi. Betapa tidak, keberagaman tentang segala hal ada negeri kita ini. Indonesia adalah surga bagi para pecinta perjalanan atau traveller. Indonesia memiliki segala yang diimpikan, diinginkan, dan dibutuhkan oleh bangsa-bangsa dari negara lain.

Indonesia, Negeri Pelangi, memiliki keberagaman mulai dari agama, suku, bahasa, budaya atau kebiasaan sehari-hari, makanan, pakaian, bahkan bentuk rumah tinggal. Segala keberagaman atau perbedaan yang dimiliki Indonesia ini sudah sepatutnya kita syukuri, kita jaga, kita lestarikan, dan kita wajib bangga dengan segala keberagaman itu.

Negeri Pelangi, saya mulai terpikir untuk memberi julukan itu pada negara tercinta saya ini, saat saya benar-benar merasakan kehidupan ditengah-tengah perbedaan yang sangat indah. Perbedaan suku, perbedaan daerah tinggal, perbedaan agama, perbedaan kebiasaan dari daerah asal, bahkan sampai pada perbedaan karakter dan latar belakang kehidupan, semuanya saya alami saat saya bekerja sebagai pengajar di salah satu daerah di Kalimantan Tengah.

Sungguh suatu pengalaman yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, yang pada akhirnya saya sebut itu sebagai “Anugerah Tuhan yang Terindah”. Dimulai di awal bulan Januari 2011, saya memulai kehidupan dan pekerjaan baru sebagai pengajar di sekolah swasta milik salah satu perusahaan perkebunan kelapa sawit di Indonesia yang kebetulan terletak di Kalimantan Tengah.

Saya tinggal di rumah dinas yang disediakan perusahaan yang berada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit yang keadaannya lebih cocok disebut sebagai hutan sawit, karena memang keadaan sekeliling sangat sepi, dan jauh dari perkotaan, meskipun ada banyak pegawai atau staf yang juga tinggal disitu bersama keluarga mereka. Dan di perkebunan sawit itulah saya belajar banyak hal. Saya mendapat pengalaman dan pelajaran baru tentang kehidupan. Saya belajar, mendapat pelajaran dan pengalaman tentang toleransi, saling menghargai, saling menghormati, kasih sayang, kedermawanan, keikhlasan, kerja keras, kedisiplinan, kedewasaan sikap, kedewasaan berpikir, kedewasaan mental, dan penerimaan setiap individu baru yang semua itu diajarkan juga ditunjukkan langsung dengan perbuatan, bukan hanya sekedar ucapan atau tulisan.

Indonesia memang surga. Indonesia memang indah. Saya tinggal dan berbaur dengan masyarakat dari seluruh Nusantara. Dan hal tersebut tentu saja secara tidak langsung membuka juga merubah cara berpikir saya untuk lebih berkembang, meluas, dan membuang jauh-jauh ego pribadi demi kemaslahatan bersama.

Pengalaman mengajar di sekolah perkebunan kelapa sawit selama hampir tiga tahun telah membuka mata saya, memberi pengertian bahwa Nusantara itu indah dengan segala perbedaannya. Perbedaan yang dimiliki Indonesia telah mendewasakan saya di tanah rantau itu. Perlahan-lahan, tanpa terasa, secara tidak langsung perbedaan itu menguatkan saya untuk hidup di perantauan kala itu. Sungguh tak terlupakan. Keramahan masyarakat asli Kalimantan Tengah, dan penerimaan yang sangat baik dari teman-teman saya dari berbagai daerah di Indonesia telah membuat saya menjadi warga negara Indonesia seutuhnya.

Hidup di tengah perkebunan kelapa sawit dengan fasilitas serba terbatas, dan jauh dari hiruk-pikuk serta kemewahan perkotaan, juga jauh dari keluarga, memang dirasa tidak mudah. Tapi di tempat itu kami saling peduli dan membantu satu sama lain. Kami saling menguatkan tanpa pandang lagi tentang perbedaan karakter, latar belakang kehidupan, ataupun perbedaan lain. Kami berbaur dengan masyarakat asli yang mengajarkan kami pentingnya tata krama dan kesopanan juga kejujuran jika kita tinggal di perantauan. Saya benar-benar bersyukur dengan keadaan itu. Saya merasa mendapat keluarga baru yang lebih memahami akan segala hal.

Keindahan di tanah rantau yang saya jalani kala itu tidak hanya memberi saya pelajaran tentang kehidupan bermasyarakat, tapi juga tentang pendidikan dan generasi mudanya – para siswa dan siswi yang bersekolah di sekolah perkebunan kelapa sawit itu. Anak-anak itu begitu bersemangat di pagi hari, berangkat ke sekolah dengan penuh impian dan cita-cita. Mereka sangat haus akan pendidikan, dan mereka menjalani masa-masa bersekolah itu tanpa keluhan, dengan tawa riang, dan senyum yang selalu merekah meskipun mereka sadar bahwa kehidupan sehari-hari dan pendidikan yang mereka jalani berada di tengah-tengah perkebunan kelapa sawit yang jauh dari keramaian, kemewahan dan barang-barang bagus ala masyarakat perkotaan.

Anak-anak itu menerima keadaan tanpa banyak mengeluh dan protes. Yang ada di benak mereka hanya menjalani masa-masa sekarang, dan mereguk kenikmatan hasilnya nanti di kala mereka lulus, dan selama mereka masih memiliki niat untuk terus belajar. Sungguh suatu pemandangan yang sanggup memecah kekakuan hati dan pikiran saya saat itu.

Suatu pelajaran berlipat-lipat yang saya dapatkan saat itu. Sungguh suatu anugerah yang tak terkatakan indahnya, suatu pengalaman dan kenangan yang tak bisa dibeli juga digantikan oleh apapun di dunia ini. Anak-anak perkebunan kelapa sawit itu mengajarkan pada saya arti pendidikan dan sopan-santun yang sebenarnya. Meskipun mereka hidup jauh dari perkotaan, tapi mereka sadar benar akan kebutuhan mereka pada pendidikan. Meskipun hujan petir dan banjir melanda, semangat mereka tak pernah surut untuk berangkat ke sekolah, belajar, menerima ilmu yang diberikan para guru. Bahkan mereka ikhlas datang ke rumah guru-guru mereka untuk meminta petunjuk tentang pelajaran yang belum mereka pahami meskipun jaraknya berkilo-kilo meter. Anak-anak itu mendewasakan batin saya.

Jiwa saya benar-benar terbuka menerima anak-anak itu. Mereka begitu polos, begitu manis, mereka begitu santunnya saat berjalan di depan orang-orang yang lebih tua. Mereka membungkukkan badan seraya berkata “permisi, pak, bu!”. Mereka tak pernah sungkan dan takut mengakui setiap kesalahan yang mereka lakukan. Anak-anak itu begitu bertanggung jawab dengan perilaku mereka. Mereka bersedia menerima hukuman untuk kesalahan yang benar-benar mereka lakukan.

Indah sekali semua itu. Berkali-kali saya ucap syukur atas berkah pengalaman di tanah rantau itu. Saya selalu ingat, saya tak akan pernah lupa keceriaan anak-anak itu. Kepandaian dan kecerdasan mereka tercipta dari kesantunan dan kepatuhan yang mereka lakukan pada setiap orang tua, termasuk guru-guru mereka.

Tuhan, sungguh, aku cinta negeri ini. Saya orang Indonesia yang bangga akan negeri ini. Negeri Pelangi. Negeri sejuta impian dan harapan. Negeri elok dengan hiasan surga didalamnya. Negeri ini menciptakan kedamaian dalam perbedaan. Negeri ini menciptakan cinta kasih dalam keberagaman. Negeri ini menciptakan ketulusan dalam keramahan.

Indonesia, Negeri Pelangi. Negeri terindah beralam hijau. Negeri termegah dalam kedipan mata. Terima kasih, Tuhan. Terima kasih untuk berkahMU atas negeri ini. Lindungi selalu negeri ini, Tuhan. Limpahkan segala kasih dan rahmatMU untuk Negeri Pelangi ini.