I Call You ‘A’; Hingga ke Mimpi

23

Malam pun berlalu. Dan aku memilih untuk berdamai dengan pulau kapuk nan empuk itu. ‘ayo tidur’ bujuk ku pada otak yang sudah ku paksa sedari pagi.

Malam ini begitu dingin sebab hujan yang tiada mau beranjak dari siang, hingga menjelang malam, masih betah turun membasahi bumi. Nyenyaknya, nyaman sekali. Suasana yang sangat kondusif untuk merebahkan tubuh di pembaringan.

Sambil berbaring, ku pandangi lampu yang masih menyala, ‘ahh, harusnya aku bisa melihat purnama cantik itu’ aku masih saja berpikir. Hari ini akan muncul super blood wolf moon, harusnya dapat terlihat di langit malam, tapi sayang sekali, hujan merintangi fenomena alam yang langka itu.

Ku tutup lampu, dan mulai tidur. Pintu mimpi pun mulai terbuka, dia lagi. Segmen mimpi ku kali ini, kembali padanya. Senyum yang selalu terukir. Pembawaan hangat nan menyentuh, selalu hadir. Dia! Ya, lagi-lagi dia. Ini di mana? Aku seakan bertanya di dalam mimpi ku.

Sekarang di mimpi ini aku kembali bertemu dia. Perlakuan lembutnya yang setiap kali bertemu dengan ku di dunia nyata juga terbawa hingga ke mimpi. Bersama, kami bersama menaiki gunung itu, ramai sekali orang di sana, burung-burung pun banyak yang singgah lalu kemudian terbang kembali.

Ahh, aku masih mengikuti langkahnya. Tiba-tiba kami sampai di pantai, aku ingat, ini Pantai Pasir Putih. Sebuah pantai kecil yang tersembunyi di dekat kawasan legenda Batu Malin Kundang. Kemudian, aku bertemu dengan mamanya. Seorang ibu yang sangat luar biasa.

Bahkan di dunia nyata pun, aku sangat mengagumi mamanya. Seorang ibu yang mampu menghidupi anaknya seorang diri, tanpa suami. Dan mampu membentuk anaknya menjadi anak yang sopan, hormat pada orang tua dan taat beragama.

Sungguh sangat luar biasa. Tante tersenyum pada ku. Sangat lembut, dan benar-benar senyum tanpa beban. Sungguh menyejukkan pandangan. Dan seketika menghilangkan keraguan ku, akankah jika dia nanti kembali ke kota ini, ibunya akan menerima kehadiranku?

Mimpi yang indah, dengan suasana keakraban yang begitu memesona. Aku terbangun. Jam di handphone ku menunjukkan pukul 4 pagi. Segera ku nyalakan lampu, dan menuju kamar mandi. Membersihkan diri dan berwudhu.

Ku kenakan mukena maroon berempel tiga nan menawan itu. Sebuah mukena cantik yang dihadiahkan kakak sepupu padaku, lebaran kemarin. Kemudian aku sholat hajat. Kemudian aku menengadahkan tangan sambil berdoa,

“Ya Allah, kali ini aku masih bermimpi tentangnya, bahkan juga ada ibunya. Allah, izinkanlah aku menjadi halal untuk hidup bersamanya. Sebab ku yakin, dengannya akan semakin mendekatkanku padaMu. Izinkanlah takdir kami bersatu.

Sungguh, Engkau yang Mahatahu, betapa rindu dan azam ini tiada lagi bisa aku kendalikan. Allahu Rabbi, sungguh ketakutan yang amat besar bagiku menyimpan yang tidak halal untuk aku dambakan. Tapi, aku tak bisa menolak rasaku, takdirkanlah.

Allah, Engkaulah satu-satunya yang mampu menetapkan dan memutuskan apapun jua yang terbaik bagi hambaMu. A yang tergambar dalam bait munajat ini, adalah pintaku padaMu. Getarkanlah! Kuatkanlah!

Yakinkanlah hatinya hingga bersedia menjadi halal bagiku. Sungguh, tiada yang kami tuju melainkan keridhaanMu. Dengan seluruh keyakinanku padaMu, Allah kabulkanlah, aamiin”. Ku sudahi pinta malam itu dalam shalat hajat yang ku dirikan.

Kemudian tahajud dan witir. Sembari menunggu subuh, ku ceritakan padanya melalui pesan media sosial, dan dia pun tertawa. Satu hal yang masih membuatku bingung, dari mana dia mengetahui lokasi Pantai Pasir Putih, sedangkan pantai itu baru saja ditemukan beberapa bulan belakangan ini, dan dia tidak di sini?

Aku memang berencana untuk mengajaknya ke sana, saat dia pulang nanti. Oh, kenapa bisa begini? Mungkinkah ini sebuah petunjuk, bahwa saat dia pulang, aku harus benar-benar menunjukkan lokasi pantai cantik itu padanya? Ya, aku dan dia sama-sama menyukai pantai.