Hati-Hati Dengan Diskon, Jadilah Pembeli Cerdas!

4

Bagi banyak orang, terutama wanita, melihat potongan harga atau diskon adalah salah satu hal yang sangat menggiurkan. Sering kali karena tergoda akan potongan harga, membuat banyak orang menghabiskan uang melebihi yang seharusnya untuk barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.

Maraknya diskon atau potongan harga biasanya banyak bermunculan saat hari raya tiba. Potongan harga sebenarnya adalah salah satu strategi marketing yang sering dilakukan dengan tidak jujur. Jebakan harga yang terlihat menggiurkan ini nyatanya justru bukan memberikan keuntungan pada konsumen, melainkan hanya akan menguras kantong konsumen.

Menurut Sekretaris YLKI Makassar, Yudi Rahadrjo, konsumen harus lebih berhati-hati dan bijak dalam menyikapi tawaran potongan harga yang semakin banyak di pusat perbelanjaan. Yudi mengatakan, “Dalam banyak kasus sudah menaikkan harga pokok baru diberikan diskon. Kalau harganya Rp100 ribu lalu dinaikkan menjadi Rp200 ribu dan didiskon hingga 50 persen artinya kan kembali ke harga normal.”

Begitu pula dengan tawaran potongan harga yang menawarkan 70+20% yang banyak menjebak konsumen. Banyak konsumen yang akhirnya menyesal melakukan pembelian karena merasa tertipu dengan angka diskon yang dilihatnya.

Pengurus Harian Jakarta, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Tulus Abadi mengatakan “Jangan terjebak diskon. Banyak yang tidak rasional. Seperti diskon 70+20 persen, ini kan luar biasa. Bisa didiskon sebesar ini apakah dengan cara memangkas ongkos produksi. Setelah saya perhatikan kemeja seperti itu tidak mungkin harganya sampai Rp 300 ribuan. Logikanya kok barang seperti itu harganya sampai Rp 300 ribu. Paling hanya Rp 100 ribuan, jadi dinaikkan dulu harganya jadi 300 ribu, baru didiskon.”

Maka dari itu, konsumen harus jeli dengan harga yang ditawarkan. Konsumen diharapkan lebih aktif bertanya pada pegawai yang berada di sekitar display produk sehingga bisa mendapatkan informasi yang tepat mengenai jumlah harga yang akan dibayar. Namun sayangnya masih banyak konsumen yang tidak terlalu mempedulikan detail seperti ini sehingga terjadi penyesalan setelah melakukan pembayaran.

Menurut Tulus, beberapa retail melaporkan omset mereka yang mencapai 120 triliun setiap menjelang hari raya. Hal ini tentu sangat mencurigakan dan perlu diusut. Pihak retail yang terbukti menaikkan harga produk terlebih dahulu sebelum memberikan potongan harga dapat dipidana dengan undang-undang nomor 88 tahun 1999 tentang perlindungan konsumen.

Konsumen yang merasa dirugikan juga dapat mengajukan aduan pada Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. YLKI akan mengusut permasalahan konsumen agar konsumen mendapatkan keadilan dan tidak ada pihak yang dirugikan lagi.