Harga Minyak Melambung: Akibat Gejolak Politik Di Timur Tengah

12

Senin, 19 Mei 2019 menjadi awal pekan yang menandai memanasnya politik di Timur Tengah  sehingga menyebabkan harga minyak melambung. Sejak Kamis (16/5) waktu Amerika Serikat pada perdagangan dunia harga minyak menguat lebih dari 1%. Hal tersebut merupakan adanya serangan udara koalisi militer Arab Saudi yang diakibatkan tidak puas dengan kualitas minyak akhir-akhir ini.

Serangan dilakukan setelah adanya aliansi Iran yang menyatakan akan bertanggung jawab mengenai serangan drone pada dua stasiun pompa minyak Arab Saudi pekan ini. Harga minyak mentah naik sebesar US$0,85 menjadi US$72,62 per barel. Harga Brent melambung sampai ke level tertinggi dalam 3 minggu terakhir. Sementara harga minyak mentah AS WTI (West Texas Intermediate) sebesar US$0,81.

Deputi Menteri Pertahanan Arab Saudi menduga bahwa serangan drone pada stasiun pompa minyak merupakan perintah dari Iran. Serangan tersebut dilakukan menyusul setelah empat kapal tanker minyak di pesisir Uni Emirat Arab pada hari Minggu, 12 Mei 2019. “Jika ada penembakan di jaringan pipa, serangan drone kemungkinan adanya gangguan pasokan yang meningkat atau akibat adanya konflik,” ujar Flynn di Chicago.

Kamis kemarin, 17 Mei 2019 Menteri Perminyakan Irak Thamir Ghadhban menyatakan bahwa perusahaan minyak internasional yang beroperasi di Irak berjalan normal. Sementara operator kapal dan kilang Asia mengirimkan kapal menuju Timur Tengah dengan waspada dan memperkirakan premi asuransi kapal akan mengalami kenaikan usai serangan tersebut.

“Sampai situasi mereda, pasar akan mengalami penurunan aktivitas perdagangan serta melalui masa sulit,” ujar Direktur Komoditas Berjangka Bob Yaeger. Selain itu pasokan reli dan bensin yang ketat di pasar ekuitas juga berperan dalam mendongkrak harga minyak. Keberlanjutan kebijakan pemangkasan produksi yang dilakukan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) beserta sekutunya termasuk Rusia menyebabkan pasar menghadapi ketidakpastian terkait hal tersebut.

Pemangkasan produksi telah menyebabkan harga melambung lebih dari 30 persen semenjak awal tahun. Ghadnan menyatakan bahwa pertemuan Komite Pengawas OPEC selanjutnya akan menilai mengenai komitmen dari anggota masing-masing maupun pada non anggota dengan adanya pemangkasan produksinya.