Hangatnya Isu Politik Oligarki, Apa Sebenarnya Oligarki?

23

Dunia perpolitikan Indonesia sedang hangat dengan isu oligarki. Istilah ini muncul setelah sebuah akun di Twitter memposting foto yang memperlihatkan Presiden Jokowi beserta staf khusus presiden dari kaum milenial sedang duduk bercengkerama. Dalam gambar tersebut terlihat sesosok tubuh tegap berdiri di belakang mereka yang sedang tertawa.

Sosok misterius yang berada di dalam istana itu disebut-sebut sebagai lambang oligarki dalam istana kepresidenan. Namun ternyata, sosok misterius itu adalah patung Jenderal Sudirman yang memang ada di tengah ruangan di istana presiden.

Meskipun begitu, isu politik oligarki justru jadi semakin dibicarakan. Politik oligarki adalah bentuk pemerintahan dimana terdapat satu kaum elite yang memegang kekuasaan di pemerintahan. Bentuk politik seperti ini tentu hanya akan menguntungkan pihak yang memegang kekuasaan saja, sedangkan rakyat jadi semakin tertindas.

Lalu mengapa politik oligarki disebut sebagai bentuk politik pemerintahan Jokowi saat ini? Hal ini tidak terlepas dari berbagai masalah yang timbul dalam pemerintahan Joko Widodo. Di masa pemerintahan Jokowi, beberapa elite yang menguasai media massa menjadi teman dekat yang semakin sering muncul di dunia politik Indonesia.

Hal ini sangat berbeda dibandingkan dengan masa kepemimpinan presiden sebelumnya. Para pemilik bisnis raksasa di masa ini justru memiliki kendali lewat partai politik yang mereka bangun. Keberadaan mereka yang hadir di pemerintahan membuat ‘kepentingan pribadi’ menjadi tujuan yang lebih utama dicapai dibandingkan kepentingan rakyat.

Beberapa kali Jokowi tampak membangun citra positif bahwa ia menggandeng semua pihak, namun sayangnya rakyat saat ini sepertinya tidak dapat dibohongi dengan mudah. Pencitraan yang dilakukan tampaknya tidak mempan lagi saat ini.

Misalnya saja ketika ia mengangkat beberapa staf khusus yang berasal dari kaum milenial sebagai bentuk kepeduliannya pada mereka yang masih muda. Apalagi terdapat staf yang memiliki disabilitas. Sekilas ia mengira bahwa hal tersebut mampu menaikkan citra yang baik tentangnya, namun pada kenyataannya justru menjadi bumerang bagi diri sendiri.

Pengangkatan beberapa kaum milenial ditepis dengan keras oleh masyarakat sebagai bentuk pencitraan lainnya. Bagaimana tidak? Seluruh anggota staf khusus milenial yang ia angkat berasal dari kaum elite yang disinyalir memiliki kepentingan sendiri. Mereka yang bukan berasal dari ‘rakyat jelata’ membuat masyarakat meremehkan kemampuan mereka dalam memimpin.

Begitu pula dengan pemberian grasi dan revisi UU KPK yang tidak dapat ditangani dengan baik oleh Jokowi membuat isu politik oligarki yang berhembus semakin kuat. Bau kepentingan kaum elite pun semakin kuat tercium oleh rakyat.