Haid Dalam Hindu, Bolehkah Sembahyang?

10

Banyak sekali pertanyaan-pertanyaan serupa yang ditanyakan oleh remaja putri Hindu, remaja tersebut sudah tergolong ke dalam remaja wanita akil balik atau suda mengalami pancaroba di dalam jasmaninya.

Di mana telah mengalami menstruasi atau yang lazimnya dikatakan sebagai datang bulan, memang tidak di pungkiri jika pada kondisi yang demikian sedikitnya tidak akan mengganggu aktivitas mereka, memang sekurang-kurangnya mereka tidak akan beraktivitas sebebas seperti pada kondisi normal.

Telah diketahui jika dalam agam hindu juga menilai etika yang berlaku pada umumnya, yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang telah belepas atau keluar dari badan/jasmani manusia, maka sesuatu hal tersebut dipandang sebagai hal yang kotor.

Sebagai contoh jika rambut telah lepas dari kepala dan berada pada bukan pada tempatnya,  misalnya rambut tersebut berada pada makanan maka makanan tersebut dipandang kotor.

Sama saja dengan datang bulan dimana orang yang mengalami datang bulan juga dipandang kotor hal tersebut memang dikarenakan sejatinya ada darah kotor yang telah keluar dari salah satu organ tubuh manusia, jika dalam kondisi ini bahasa agama Hindu maka orang tersebut disebut mengalami keadaan cuntaka.

Maka dengan adanya paradigma tersebut kemudian sebagian dari kaum hawa telah berasumsi jika pada kondisi ini maka mereka tidak boleh sembahyang alias Tri Sandhya.

Hal tersebut karena mereka mengap diri mereka kotor atau dalam keadaan cuntaka, sehingga sedang memandang dirinya tiak layak untuk memuja atau menghubungkan diri dengan zat yang maha suci Hyang Widhi. Apakah benar hal tersebut adanya?

Jika anda ketahui menurut ¬†theologi Hindu, Tuhan atau Hyang Widhi itu memiliki sifat “Wyapi wayapaka nirwikara”, yang berarti bahwa Tuhan ada dimana-mana, tapi tidak akan terpengaruh oleh yang ada. Tentunya hal yang serupa dinyatakan di dalam kitab Svetra Upanisad VI.II, dimana kitab tersebut menguraikan seperti di bawah ini:

  • Eko dam saroa bhutesu gudas
  • Sarva vyapi saiva bhintantar-atma
  • Karmadhyaksas sarva bhuta drivassas
  • Saksi ceta kevalo nirgunasca.

Yang memiliki arti

Tuhan yang bersifat tunggal sembunyi (ada) pada semua makhluk, Menyusupi segala inti hidupnya semua mahluk, Hakim semua perbuatan yang berada pada semua makhluk, Saksi yang mengetahui, yang tunggal, bebas dari kualitas apapun.

Tentunya dengan merujuk pada sumber kitab suci di atas, jelaslah jika tuhan tidak akan terpengaruh oleh yang ada di dunia ini hal ini termasuk kepada ciptaan-Nya, Tuhan adalah zat yang terbebas dari kualitas apapun itu.

Jadi jika demikian bagaimanapun adanya kondisi kita, suci atau cuntaka, datang bulan atau tidak, tentunya tidak akan berdampak apapun terhadap adanya keberadaan dari Tuhan yang maha suci.

Tuhan memang tidak akan terpengaruh oleh unsur duniawi. Jika demikian memang jelaslah bahwa bagaimanapun kondisi kita, maka aktivitas sembahyang atau Tri Sandhya tersebut itu tetap bisa dan wajib untuk dilakukan namun jika anda dalam keadaan cuntaka tentunya tidak boleh mengunjungi tempat suci (Pura).