Filosofi Cinta Dalam Secangkir Kopi

71

Kata kopi dan cinta tentu tidak asing lagi ditelinga. Meski berbeda, namun kopi dan cinta memiliki kedudukan yang sama. Ada beberapa kalangan yang sering meminum kopi. Ingat, sering! Ya, kerap kali anak-anak remaja hanya mengikuti tren meminum kopi namun sesungguhya mereka sendiri tidak begitu menikmati rasanya bahkan mereka tidak tau ada berapa banyak jenis kopi di dunia ini.

Sungguh wajib kita akui sembilan puluh sembilan koma sembilan persen pencinta kopi adalah oarang dewasa. Dipagi hari mereka meminum kopi agar lebih bersemangat mengawali hari, disiang haripun mereka meminum kopi untuk menghindari rasa ngantuk dan jenuh, kemudian dipenghujung senjapun kopi adalah teman terbaik saat melepas lelah dari mumetnya aktivitas seharian.

Cinta adalah milik seluruh umat.Baik anak remaja, dewasa hingga manusia diujung senja. Lantas apa bedanya cinta bagi mereka? Sebagian anak remaja menganggap cinta adalah sebuah perasaan yang didukung oleh ambisi serta gengsi guna menunjukkan kepada dunia bahwa dia memiliki pasangan yang dia cintai.

Bahkan jika mereka tiba-tiba di eliminasi dari bumi untuk berhijrah  ke planet mars panasnya suhu planet mars akan terkalahkan oleh rasa cintanya.

Kemudian, bagi orang dewasa cinta adalah sebuah rasa ingin saling memiliki yang didasari oleh kasih sayang. Tak peduli kurang atau lebihnya pasangan kita. Karena fokusnya hanyalah  bersama menikmati suka cita perjalanan hidup. Namun apabila dikemudian hari cinta itu kering, orang dewasa tau persis apa yang harus dia lakukan, bagaikan serbuk kopi yang membutuhkan kucuran air.

Bagi mereka kaum senja dunia bagaikan secangkir kopi, mereka sesungguhnya menyukai kopi namun lambungnya mulai tidak bersahabat. Kerapkali terasa sakit, dan kemudian perlahan mereka akan mengurangi intensitas dalam meminum kopi. Hingga pada akhirnya tanpa disadari mereka terbiasa tanpa kopi.

Dalam sisa hidupnya mereka tentu tau pasti cara menikmati kopi. Antara manis dan pahit, panas serta dingin. Cepat atau lambat kopi akan habis. Bagaikan sebuah cinta sungguh mereka memilikinya dan tetap menjaga serta menginginkannya. Tetapi apalah daya diujung senja cinta terasa bias.

Antara warna jingga hingga paras kabut mungkin saja ikut menyelinap. Kawanan burung terbangpun taklagi terlihat indah. Mengapa demikian? Jelas saja, karena pengelihatan senja tak sejelas mentari pagi.