Fakta Disertasi Abdul Aziz, Mengapa Penuh Kontroversi? Begini Jawabnya

23

Dunia pendidikan digegerkan dengan kemunculan sebuah disertasi yang berjudul ‘Milk al-Yamin Muhammad Syahrur sebagai Keabsahan Hubungan Seksual non-Marital’. Disertasi ini dibuat oleh seorang Dosen bernama Abdul Aziz yang ditempatkan untuk mengajar di Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Disertasi ini bertujuan untuk mendapatkan gelar Doktor bagi Abdul Aziz di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta. Isi dari disertasi tersebut dianggap kontroversial karena banyaknya penjelasan mengenai hubungan seksual tanpa menikah merupakan salah satu aktivitas yang tidak melanggar norma – norma keagamaan. Abdul Aziz sendiri tidak menyangka disertasi yang ditulisnya itu akan viral dan menjadi ramai diperbincangkan oleh banyak orang.

Beliau mengaku penulisan disertasi tersebut didasari dengan keprihatinan beliau terhadap fenomena kriminalisasi terhadap hubungan seksual di luar nikah. Untuk mengetahui lebih lanjut, berikut ini beberapa fakta terkait disertasi Abdul Aziz yang harus kamu tahu. Simak selengkapnya di bawah ini ya.

1. Alasan Pembuatan Disertasi dan Revisi

Lebih lanjut, Abdul Aziz menyatakan, dirinya hanya menuliskan pemikiran dari seorang profesor Teknik Sipil Emeritus di Universitas Damaskus, Suriah, bernama Muhammad Syahrur. Muhammad Syahrur menuliskan beberapa pemikiran mengenai konsep Milk Al-Yamin.

Ia mengatakan ini adalah adanya kriminalisasi dalam hubungan seksual di luar nikah seperti antara lain penggerebekan hingga dirajam yang menurut konsep tersebut adalah salah. Namun, apabila dikaitkan dengan hukum Islam, jelas dikatakan hubungan seksual yang dilakukan selain dengan istri yang sah merupakan salah satu tindakan zina. Untuk pelakunya harus diberi hukuman 100 kali rajam apabila yang bersangkutan sudah menikah. 

Dosen mata kuliah Hukum Perkawinan Islam ini menyatakan butuh waktu hampir tiga tahun untuk mengupas dan membedah pemikiran Muhammad Syahrur tentang konsep Milk Al-Yamin. Beliau pun mengaku mendapatkan kesulitan karena terlibat pertentangan batin dengan isu-isu yang ia tahu merupakan isu sensitif.

Abdul Aziz sudah menjalani ujian terbuka dan dinyatakan lulus dengan nilai tertinggi pada tanggal 28 Agustus 2019 dengan disertasi kontroversialnya ini. Namun, dengan banyaknya permintaan untuk perubahan isi disertasi. Beliau akhirnya menerima untuk melakukan revisi.

Kemudian, setelah mendengar berbagai pendapat dari para penguji juga ahli, Abdul Aziz pun mengubah judul disertasinya menjadi ‘Problematika, Konsep Al-Yamin dalam Pemikiran Muhammad Syahrur.’

2. Tanggapan Penguji

Profesor Euis Nurlaila sebagai salah satu penguji saat sidang disertasi Abdul Aziz menyatakan secara jelas isi dari disertasi adalah merupakan hasil kajian ilmiah didasari oleh pemikiran Muhammad Syahrur. Konsep dari Milk Al-Yamin sendiri yaitu menyatakan Islam memperbolehkan hubungan seksual diluar pernikahan. Syahrur, menerapkan konsep ini dengan analogi pernikahan misyar.

Penguji lainnya yaitu Alimatul Qibtiyah juga menekankan pemahaman Abdul Aziz adalah bertujuan untuk melindungi institusi perkawinan yang diagungkan syariat Islam. Memandang prespektif Syahrur yang mengakui konsep Milk Al-Yamin sangat problematis bila dipandang dari sisi kesetaraan gender. Pernikahan Non-Marital sendiri adalah pernikahan yang dilakukan hanya untuk mencari kepuasan seksual, tidak melihat dampak setelahnya seperti hak anak, kesehatan reproduksi, serta hak – hak perempuan lain yang dinikahkan secara non-marital.

Demikian fakta dari Disertasi kontroversial milik Abdul Aziz. Semoga artikel ini dapat membantu dan bermanfaat.