Ekonom Peringatkan Jokowi Tak Terlena Janji Manis Investasi

14

Jakarta, 14 Januari 2020 Presiden Republik Indonesia Joko Widodo membahas kedatangannya ke Uni Emirat Arab menghasilkan perjanjian segi investasi sejumlah Rp 314,9 triliun. Namun dalam hal Ini, Mohammad Faisal sebagai Ekonom Core mengingatkan semua pihak termasuk Jokowi agar tidak terlena dengan janji manis investasi. Sebab ada juga janji manis dari negara luar pada akhirnya tak sesuai dengan yang dijanjikan, sehingga pemerintah tidak boleh terlena dengan janji mereka.

Hal yang lebih penting dari sekedar janji dari investasi adala fokus pada realisasinya. Adakalanya janji manis dari negara lain untuk investasi berjalan tidak sesuai dengan yang telah diberitahukan sebelumnya. Kondisi seperti ini menjadikan Indonesia sebagai negara tujuan investasi harus bisa fokus pada bagaimana realisasi dari janji yangh diberikan.

Salah satu contoh yang bisa dilihat kembali, ada rencana investasi dari Negara Arab Saudi melalui Saudi Aramco di sebuah Kilang Cilacap.  Dimana kilang ini milik PT Pertamina  yang sudah berlangsung sejak 2017 lalu. Padahal, Muhammad bin Salman sebagai putra Mahkota Arab Saudi sudah datang ke Indonesia untuk memperlihatkan keseriusan dalam investasi ini. Tetapi kenyataannya, hingga hari ini belum ada kejelasan dan realisasi dari Saudi Aramco yang beroperasi di Kilang Cilacap.

Melihat hal ini, Faisal mengingatkan agar pemerintah jangan langsung optimis dan bangga dengan nilai investasi yang dijanjikan. Sebab sudah bisa dilihat dengan jelas bahwa banyak janji dari tahun-tahun sebelumnya yang hingga kini belum diwujudkan. Sehingga selisih antara komitmen itu sendiri dengan realisasi semakin tinggi.

Selain itu, janji investasi yang baru saja diperoleh oleh Jokowi juga berasal dari negara Timur Tengah. Bukan bermaksud memojokkan atau menjelek-jelekan, namun sesuai kejadian yang sudah-sudah tingkat komitmen dari berbagi negara Timur Tengah masih minim dibandingkan dengan negara yang lain seperti Singapura dan Jepang.

Faisal juga mengungkapkan bahwa perlu melihat bagaimana sikap dan pola negara investor tersebut. Faisal juga tak tahu pasti penyebab negara Timur Tengah banyak yang tidak terwujud investasinya, berbeda dengan negara Jepang yang lebih sesuai janji.

Mengingat hal ini, Faisal kembali mengingatkan agar pemerintah dalam menyikapi janji nilai investasi secara hati-hati dengan UEA, terutama telah membuat perjanjian dengan UEA terkait rencana pembangunan ibu kota yang baru.

Menurut Faisal sendiri, keputusan pemerintah khususnya Jokowi perlu dipertimbangkan lagi terkait penawaran Putra Mahkota Abu Dhabi Sheikh Muhammed Bin Zayed sebagai dewan pengarah.  Jangan hanya karena obsesi meningkatkan investasi hingga akhirnya pemerintah harus menggadaikan kepentingan negara.  Sehingga jika Indonesia ingin agar investasi berjalan dengan baik, maka berbagai masalah harus bisa diselesaikan oleh pemerintah. Jadi fokus kepada kebijakan yang bisa membuat masalah selesai.