Diduga Melakukan Monopoli Dengan Lippo Group, Pihak OVO Angkat Bicara

12

Siapa yang tak kenal dengan dompet elektronik OVO? Meskipun baru, namun OVO telah berhasil menjadi dompet elektronik yang ada di dalam ponsel setiap orang di Indonesia. Kemudahan dalam pembayaran serta banyaknya promo yang bisa didapatkan merupakan daya tarik terbesar dari dompet elektronik ini.

Meskipun ketenaran OVO semakin meluas, namun ternyata OVO menjadi kecurigaan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dengan dugaan melakukan persaingan tidak sehat. OVO diduga melakukan monopoli pembayaran pada berbagai rumah sakit dan tempat parkir. Dugaan ini muncul setelah banyaknya laporan dari para pesaing OVO yang memberikan keluhan pada KPPU.

“Ini inisiatif dari KPPU setelah banyaknya laporan umum tentang keluhan penggunaan OVO secara eksklusif di beberapa pusat kegiatan publik, mall, rumah sakit, dan lainnya. Sekarang masih tahap kajian penelitian, kami sudah kirim beberapa orang ke beberapa titik yang katanya (penggunaan OVO) eksklusif,” jelas Kodrat Wibowo, Komisioner KPPU.

Salah satu rumah sakit yang diduga mendukung kegiatan monopoli OVO adalah Rumah Sakit Lippo. Rumah sakit ini disinyalir memberikan keistimewaan pada OVO, sedangkan e-money lainnya tidak disediakan.

“Secara ranah hukum ada satu pasal mengenai penggunaan posisi dominan, ini kita coba di awal apakah ada kemungkinan dominasi pembiayaan atau permodalan yang dipegang satu pelaku usaha tertentu tanpa mengizinkan atau mengajak pihak lainnya,” tukas Kodrat.

Tak hanya Rumah Sakit Lippo saja, pusat perbelanjaan yang ada dalam Lippo Group juga memberikan keistimewaan pada OVO melalui lahan parkirnya. Namun sejauh ini, pihak KPPU telah menyelesaikan diskusi terkait masalah parkir tersebut.

Menanggapi hal ini, Head of PR OVO Sinta Setyaningsih mengatakan bahwa OVO selalu terbuka untuk menjalin kerjasama dengan pihak manapun.

“Sebagai platform pembayaran digital dengan strategi ekosistem terbuka, OVO terus menjalin kerja sama dengan berbagai pihak dengan visi yang sama, yaitu untuk mengedukasi masyarakat akan berbagai kelebihan transaksi non tunai,” ujarnya menanggapi isu monopoli OVO.

Ia juga menambahkan bahwa OVO akan selalu berkembang menjadi pembayaran digital terbaik di Indonesia. “Kami juga memberikan keleluasaan bagi merchant untuk bekerjasama dengan penyedia layanan keuangan. OVO sangat mendorong ekosistem pembayaran yang kolaboratif dan inklusif untuk mendukung perkembangan ekonomi digital.”