Diduga Cabuli Jemaat, Pendeta di Surabaya Ditangkap Polisi

61

Surabaya, 09 Maret 2020 – HL (57), seorang oknum pendeta di Surabaya ditangkap Kepolisian Daerah Jatim lantaran dugaan pencabulan terhadap jemaatnya yang masih di bawah umur. Kapolda Jatim mengatakan perbuatan yang telah dilakukan HL telah berlangsung belasan tahun, sejak 2005 yaitu ketika korban IW (26) masih berumur 12 tahun.

Kasus ini terungkap ketika kuasa hukum keluarga IW melaporkan perbuatan HL ke Mapolda Jatim beberapa waktu lalu. Polisi langsung melakukan penyidikan dengan memeriksa terlapor dan beberapa saksi.

Irjen Pol Luki Hermawan mengatakan usai diperiksa pada hari Jumat lalu, HL tiba-tiba mengubah nomor ponsel, nomor plat kendaraan, bahkan tempat tinggalnya. Diduga HL berencana melarikan diri ke Amerika.

Kemudian HL diringkus penyidik pada hari Sabtu lalu, sesaat sebelum HL melarikan diri. Saat ini pendeta itu ditahan dan mendekam di tahanan Mapolda Jatim. Sementara itu, hingga kini belum ada keterangan resmi dari HL maupun kuasa hukum terkait kasus dugaan pencabulan jemaat ini.

Juru bicara keluarga IW, Jeannie Latumahina mengungkapkan kronologi kasus dugaan pencabulan. Kejadian tersebut bermula belasan tahun silam, yakni ketika IW masih berusia 9 tahun –pernyataan ini berbeda dengan keterangan yang diberikan polisi dengan merujuk hasil pendalaman. Dikatakan IW mengalami suatu hal yang tak sepantasnya sejak kecil. Pelaku dugaan pencabulan (HL) adalah oknum pemimpin umat Kristen di Kota Surabaya.

Aksi bejat tersebut dilakukan HL terus-menerus selama bertahun-tahun lamanya hingga usia IW menginjak 26 tahun. Berdasarkan pemeriksaan mendalam terhadap sejumlah aksi termasuk HL, dugaan pencabulan terhadap korban tersebut telah dilakukan dalam kurun 6 tahun, yaitu dari 2005-2011, ketika korban menginjak usia 12-18 tahun. Modus HL dalam melancarkan aksi cabul tersebut disertai pemaksaan dan ancaman-ancaman kepada korban. Parahnya, dugaan perbuatan cabul yang dilakukan HL terhadap IW terjadi di sebuah ruangan yang masih berada dalam lingkungan gereja.

Peristiwa pahit yang dialami IW ini baru diketahui keluarga ketika IW berencana melangsungkan pernikahan. Dalam pernikahannya nanti, pihak keluarga berencana meminta pendet HL untuk memberikan pemberkatan, tapi IW malah menolak keras rencana tersebut.

Jennie mengatakan, setelah kasus ini terungkap, IW mengalami tekanan hingga depresi berat dan memerlukan tenaga pendampingan psikolog serta psikiater. Kasus ini dilaporkan keluarga ke Mapolda Jatim akhir bulan lalu dan telah diterima pihak kepolisian dengan nomor laporan LPB/ 155/ II/ UM/ SPKT.

HL dikenai hukuman sesuai Pasal 82 UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan atau Pasal 264 KUHP dengan ancaman hukuman 7 sampai 9 tahun penjara.