Demi Tugas Bantu Korban Tsunami, Mas Arief Lupakan Libur Bersama Keluarga

381
Mas Arief Mulya Eddie di lokasi bencana tsunami

Hari Senin, 24 Desember 2018, saya dan Carlos, wartawan Suara Pembaruan masih nongkrong di ruang wartawan yang ada di Gedung A komplek Kementerian Dalam Negeri di Jalan Merdeka Utara, Jakarta Barat. Ya, beginilah resiko wartawan, di saat yang lain menikmati libur bersama Natal dan Tahun Baru, tetap harus cari berita.

Berita yang lagi hangat hari itu tentunya perkembangan dari peristiwa terjangan tsunami yang melanda sebagian wilayah Pandeglang, Serang dan Lampung. Seperti diketahui, tsunami menerjang pantai-pantai di kawasan Selat Sunda pada Sabtu malam pekan kemarin. Tsunami terjadi akibat dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Ratusan orang jadi korban. Bahkan menurut keterangan dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) lewat juru bicaranya Sutopo Purwo Nugroho, korban meninggal sudah mencapai angka tiga ratusan orang. Ribuan orang lainnya luka-luka. Banyak bangunan yang rusak berat diterjang tsunami.

Sore hari, menjelang Magrib, Carlos menelpon Direktur Satuan Polisi dan Pamong Praja Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kementerian Dalam Negeri Arief M Eddie untuk sedikit meminta tanggapannya terkait instruksi Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo yang memerintahkan jajarannya ikut turun ke lapangan membantu penanganan korban bencana tsunami di Banten dan Lampung. Ternyata, setelah sambungan telepon tersambung, Mas Arief, demikian kami akrab memanggil mantan juru bicara Mendagri itu sedang ada di Pandeglang.

Kata Mas Arief, ia sudah turun ke Banten, sejak kemarin. Begitu dapat laporan adanya bencana tsunami, ia langsung dapat perintah dari Dirjen Administrasi Kewilayahan, Eko Subowo yang diinstruksikan Mendagri, untuk turun ke lapangan. Padahal, harusnya Mas Arief menikmati libur panjang Natal dan Tahun Baru. “Dalam keadaan begini, saat Negara memanggil, tidak ada kata libur bos,” kata Mas Arief via sambungan telepon.

Lantas lewat telepon ia pun menceritakan perkembangan penanganan korban tsunami di Banten. Katanya, sampai hari Senin sore (24/12), ada tiga pulau di Pandeglang yang warganya belum dievakuasi. Jumlah warga yang belum dievakuasi  dilaporkan sebanyak 30 orang. Hari Selasa (25/12) pagi, rencananya warga tersebut akan dievakuasi kapal Basarnas. Sementara daerah  yang paling  rusak parah terkena terjangan tsunami adalah di Kecamatan Sumur.

“Ada satu desa yang belum tersentuh yaitu Desa Paniis. Tim dari pusat, kita kan bentuk tim. Tim Kemendagri keliling, di Lampung dan di Banten,” kata Mas Arief.

Menurut Mas Arief, tim Kemendagri yang diturunkan berdasarkan instruksi Mendagri berasal dari berbagai komponen antara lain dari Ditjen Pembangunan Daerah, Ditjen Keuangan Daerah, Ditjen Pemerintahan Desa, Ditjen Administrasi Kewilayahan, Ditjen Otonomi Daerah dan Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil.

“Total ada 15 orang. Instruksi dari Pak Dirjen dan Mendagri,  kita mendata sarana dan prasarana pemerintahan yang rusak dan ikut membantu penanganan bencana.” kata Mas Arief.

Mas Arief juga melaporkan situasi kerusakan di Kecamatan Sumur, Banten. Katanya, di kecamatan itu ada  ada tujuh desa yang rusak terdampak terjangan tsunami. Sementara  untuk kecamatan lain masih di data sambil berjalan. Saat ini  fokus penanganan bencana adalah memberikan bantuan untuk warga. Ketika tsunami menerjang, banyak warga yang tinggal di tepi pantai lari ke gunung dan rumah saudara-saudaranya.

“Kita drop bantuan ke posko. Langsung kita bagi ke warga-warga. Rumah warga rata. Ada satu desa yakni Desa Sumber Jaya rata. Jadi warga ada di bukit-bukit tepi pantai. Karang Taruna setempat menempatkan mereka di SD-SD yang tidak terkena dampak. Ada kita serahkan bantuan di dua SD yang dikelola Karang Taruna. Kita bawa susu, biskuit dan lain-lain.  Pak dirjen dan Mendagri terus memantau. Pak Presiden sendiri sudah turun langsung pakai helikopter,” tutur Mas Arief.

Prinsipnya, lanjut Mas Arief, pemerintah sudah turun. Warga juga sangat terima kasih karena pemerintah dengan cepat turun tangan. Mas Arief juga melaporkan akses menuju lokasi bencana, lumayan sulit. Ada  jalur yang sempat putus. Misalnya jalan  dari Tanjung Lesung ke Kecamatan Sumur.

“Tapi kami lewat ada yang mesti putar lewat pantai, kebetulan air surut. Jembatan putus,” katanya.

Yang menggembirakan, alat berat dan PLN sudah masuk semua. Pihak PLN bekerja keras  membetulkan jaringan listrik  yang putus sepanjang Kecamatan Sumur hingga Tanjung Lesung. Mereka mendirikan tiang-tiang listrik. Karena memang tiang-tiang listrik sepanjang pantai tumbang semua.” Warga yang paling terdampak meninggal dari luar kampung. Wisatawan. Terutama di Ciputih di Desa Paniis,” ujarnya.

Menurut kesaksian warga yang ia dengar kata Mas Arief, tsunami tidak kelihatan datangnya. Ketika tsunami menerjang, warga tidak dengar apa-apa. Begitu tsunami menerjang, banyak korban ditarik ke laut. Di sana, banyak resort. Dan, sedang banyak-banyaknya wisatawan yang sedang menikmati liburan panjang.

“Wisatawan banyak kena jadi korban. Nah, untuk Satpol PP yang kita kirim, masing-masing satu pleton atau 30 orang dengan peralatan lengkap. Satpol PP yang dikirim ada dari Tangerang, Provinsi Banten dan dari DKI Jakarta, rata-rata kirim satu pleton,” katanya.

Kata Mas Arief, keberadaan Satpol PP sangat diperlukan. Karena warga membutuhkan Satpol PP saat malam hari untuk menjaga keamanan. Mereka para warga takut, barang-barangnya di rumah diambil. Karenanya Satpol PP menjaga 24 jam rumah warga.

“Warga minta Satpol PP bantu, di samping TNI dan Polri yang telah masuk ke lokasi. Kemarin tim masuk di Carita dan Tanjung Lesung. Baru hari ini Senin (24/12) masuk ke pelosok. Evakuasi terus berjalan, karena medan sulit. Negara sudah hadirlah. Dari TNI atau Polri, Kopassus, Kopaska, Marinir turun semua,” kata Mas Arief.

Selamat bertugas Pak….