Defisit APBN Capai 36,1 Triliun Di Januari 2020 Ini

24

Jakarta, 19 Februari 2020 – Telah dilaporkan terjadi penurunan defisit APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara)  di Januari 2020 kemarin, tercatat APBN berada di angka 36,1 triliun rupiah. Telah tercatat juga kesimpulan akan salah satu alokasi APBN yang menyebabkan defisit ini. Jumlah penyebab terjadinya defisit tersebut berasal dari 0,21 persen defisit tersebut berasal dari Produk Domestik Bruto atau PDB.

Kurangnya penganggaran APBN atau disebut juga defisit ini tentu saja bisa disimpulkan bahwa nominalnya lebih rendah daripada sebelumnya, maka dari itu disebut dengan ‘defisit’. Jika di Januari 2020 ini APBN bernominal 36,1 triliun, tercatat APBN pada Januari 2019 lalu bernominalkan 45,1 triliun. Adanya selisih 9 triliun ini memang cukup besar. Apalagi rupanya ada selisih diantara kedua nominal ini. Di Januari 2020 persentase anggaran untuk Produk Domestik Bruto adalah 0,21 persen, sedangkan di Januari tahun lalu persentasenya adalah 0,29 persen.

Tentu saja ada sebab akan adanya defisit anggaran negara ini, dan alasannya telah diungkapkan sendiri oleh Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani. Sri Mulyani menjelaskan bahwa salah satu akan terjadinya defisit ini adalah karena adanya penerimaan negara yang angkanya lebih rendah dibanding belanja negara. Sebab dari hal ini tak lain adalah masih jauhnya target pencapaian penerimaan APBN yang telah dibuat sebelumnya. Target untuk APBN tahun 2020 adalah berada di nominal 2.232,2 triliun rupiah. Padahal di Januari 2020 ini dana APBN baru terkumpul 103,7 triliun rupiah. Yang mana sama artinya baru terkumpul sebesar 4,6 persen saja.

Boleh jadi dana APBN terkumpul baru 4,6 persen saja, namun perlu diketahui pula bahwa kabar ini bukan tentang defisit APBN dibanding tahun lalu saja. Sejauh ini telah tercatat pembelanjaan negara sudah mencapai di angka 139,8 triliun, yang mana setara dengan 6,5 persen dari dana APBN yang ada.

Karena beberapa info ini pula bisa disimpulkan atau didapatkan persentase lain yang menggambarkan perbedaan APBN tahun lalu dengan tahun ini. Penerimaan negara turun sebanyak 4,6 persen, dan belanja negara turun sebanyak 9,1 persen dibanding dengan Januari tahun 2019 lalu.

Sri Mulyani memang telah menyebut salah satu alasan terjadinya defisit APBN ini di atas. Namun Sri Mulyani kembali memberikan penjelasan lagi terkait alasan yang menyebabkan defisit ini terjadi. Beliau mengungkapkan bahwa terjadinya defisit APBN ini juga terjadi karena belanja bantuan sosial atau Bansos tak sebesar dulu lagi. ‘Dulu maksudnya disini adalah pada Januari 2019 lalu. Hal ini juga ada sebabnya dan telah dijelaskan oleh Sri Mulyani. Sebabnya adalah tak lain karena pemerintah sendiri yang telah mengubah penyaluran bantuan sosial pada tahun ini.