Dampak Virus Corona, Penjualan BBM Merosot Tajam

25

Jakarta, 16 April 2020 – Penjualan BBM saat ini merosot tajam, hal ini disampaikan oleh PT Pertamina. Nicke Widyawati sebagai Direktur  Utama Pertamina mengungkapkan sesuai data miliknya, per Kamis, 16 April 2020 penurunan penjualan Bahan Bakar Minyak secara nasional turun hingga 34,9 persen. Sedangkan yang terjadi di DKI Jakarta, penurunan terbesar mencapai 59 persen yang tentunya berpengaruh banyak terhadap penerimaan Pertamina.

Sementara penurunan yang terbesar kedua sebesar 57 persen yang terjadi Bandung dan 53 persen di Makassar. Sedangkan di kota yang lain rata-rata penurunan permintaan di atas 45 persen. Perhitungan menurunnya permintaan ini berdasarkan yang diperoleh ketika adanya pengumuman dari pemerintah yang memutuskan WFH di sebagian daerah. Apalagi saat ini sudah diterapkan PSBB di Jakarta dan wilayah sekitarnya sehingga permintaan BBM akan semakin tertekan.

Kemudian seperti yang dikatakan Nicke bahwa hal yang sama juga terjadi pada penjualan avtur,  bahkan penurunan mencapai 60 persen. Penurunan penjualan ini dapat terjadi karena selama wabah corona masih ada, banyak penerbangan yang dihentikan ataupun berhenti. Penurunan penjualan yang terjadi ini tentunya memberikan dampak negative pada kinerja keuangan perusahaan minyak pelat merah itu.

Alasannya, saat ini pukulan dari sentimen global juga diperoleh Pertamina hingga 2 pukulan. Pertama, harga minyak mentah semakin melemah akibat pasokan yang meningkat.

Kemarin, minyak mentah untuk pengiriman bulan Mei berjangka Brent juga turun  dari posisi US$1,91 ke posisi US$ 27,69 per barel. Sedangkan minyak mentah yang berjangka West Texas Intermediate  untuk pengiriman bulan Mei menurun 1,19 persen ke US$19,87 per barel. Harga ini sebenarnya separuh dari target perseroan yang sudah dicantumkan dalam Rencana Kerja Anggaran Perusahaan tahun 2020.

Pukulan  kedua yang terjadi pada Pertamina yaitu nilai tukar Rupiah yang melemah yang kemudian menyulitkan Pertamina. Sebab di satu sisi, Pertamina harus menggunakan dolar AS untuk membayar impor minyak. Kemudian di sisi yang lain, pihak Pertamina menjual hasilnya dalam mata uang Rupiah. Tentu ini sangat membingungkan direktur pemasaran.

Nicke menyampaikan bahwa situasi yang seperti sebelumnya belum pernah terjadi. Apalagi saat ini menjadi sales terendah dalam catatan sejarah Pertamina. Tentu hal ini kemudian memberikan dampak  pada keuangan Pertamina dan operasional Kilang.

Jadi saat ini dengan menurunnya permintaan BBM  oleh konsumen memberikan dampak negative untuk Pertamina. Apalagi saat ini dengan diterapkan PSBB maka penurunan permintaan BBM  terjadi penurunan yang tinggi. Penurunan permintaan ini dikarenakan masyarakat sedang menjalani PSBB sehingga mereka tidak banyak melakukan perjalanan dan berada di rumah saja.