Cinta Pertamaku, Selamanya Ayah dan Ibu

19

Siapa cinta pertama kamu? Kalau aku sih ayah dan ibuku mereka adalah sosok malaikat bagiku. Selalu saja ada alasan mereka membuatku bahagia tersenyum lepas. Tidak hanya soal materi namun tentang rasa yang tak pernah kudapat dari orang lain. Aku sosok yang suka sekali merangkai kata untuk kedua malaikatku yaitu ayah dan ibu, karena dengan rangkaian kata yang kulukiskan di atas kertas putih ini bisa menggambarkan rasa syukurku dengan kehadiran mereka.

Meskipun ayah dan ibuku tak sehebat orang tua mereka yang bisa membawa anak-anaknya keliling kota tiap pekan, berbelanja di toko tiap gajian, makan di restoran tiap malam, traveling keluar negeri, tapi aku tak mengapa karena aku lebih bahagia bisa menikmati sebuah kesederhanaan di tengah-tengah keluargaku. Aku tak punya secuil rasa malu memiliki orang tua yang tak bergelimang harta, karena banyak orang tua diluar sana hanya sibuk mencari nafkah untuk anaknya namun sedikit saja waktu luang yang diberikan kepada anak-anaknya karena disibukkan dengan pekerjaan.

Ingatlah kawan, kamu dan aku ketika orang tua kita tak memiliki harta yang banyak tapi kasih sayang orang tua tak bisa dibeli dengan rupiah sepeser pun, karena itulah yang namanya cinta. Ketika kita benar-benar mencintai, menyayangi serta mengasihi orang tua kita dengan sepenuh hati maka tidak ada yang bisa menghalangi kita untuk selalu bersama. Coba bayangkan ketika ayah mengajak ke sawah melihat ilalang disinggahi belalang, melihat gunung sepanjang jalan tak lupa burung menari kesana kemari yang menemani perjalanan kita bersama ayah untuk sampai ke sawah.

Ingatlah ketika ayah memanggil kemudian menegur kita agar tidak bermain terlalu jauh di sawah karena khawatir ketika kita tersesat. Ingatlah ketika ayah menyuruh untuk sekolah yang benar agar tidak menjadi seperti ayah yang bekerja di sawah, tersengat cahaya matahari, basah di kala hujan dan tulang-belulang terasa remuk jika sudah benar-benar capek tak tertahankan, ayah ingin kamu menjadi anak sukses.

Ingatlah ibu juga, ibu yang merawat, membesarkan dan mendidik kamu tanpa pamrih, tak sedikitpun rasa keluh dan resah yang terucap dari kedua bibirnya. Bayangkan di tengah malam ternyata ibu menangis tersendat-sendat karena mendoakanmu agar kamu menjadi anak yang sukses dunia dan akhirat. Ingat ketika ayah dan ibu menasehati agar tidak menjadi anak yang sombong, kikir, dan berdusta bukankah itu semua karena cintanya mereka terlalu besar, entah sebesar apa namun tak dapat kuungkapkan karena tak ada yang bisa menyamai kebesaran cintanya mereka terhadap kita sebagai anak-anak mereka. Itulah mengapa cinta pertamaku ayah dan ibuku. Bagaimana dengan kalian sobat?