Cerpen : “Terimakasih Dulu Pernah Mau” (Based On True Story 1983)

170

Cerita ini saya dengar dari ayah saya dan pastinya ini bukan kisah Ayah saya, dan akan saya ceritakan semikian rupa pada kalian semua dengan nama-nama yang tentunya akan disamarkan. Baiklah, langsung saja. Selamat menikmati…

Disebuah Desa di pelosok, hiduplah dua remaja yang saling jatuh hati. mereka adalah Ahsana gadis yang biasa nan baik hati, dan Wawan laki-laki yang begitu mencintainya. Cerita ini terjadi di tahun 1983. Ahsana begitu mencintai Wawan dan mereka akhirnya meresmikan hubungannya dengan status berpacaran.

Hingga suatu hari, Wawan memutuskan untuk merantau. “Ahsana, aku akan merantau jauh. doakan aku agar sukses, karna jika belum aku tidak akan kembali. tunggu aku Ahsana. Aku akan sukses dan menikahimu.”

Ahsana hanya menitikkan air mata dan berdoa kepada Tuhan agar laki-laki yang ia cintai pulang dengan keadaan yang diharapkan. “Aku akan menunggumu hingga umurku 25 tahun mas.” Kata terakhir dari Ahsana untuk Wawan. Di hari itu, Ahsana dan Wawan berpisah. Setelah 3 tahun lamanya mereka berpacaran, dan sering berkomunikasi langsung bertatap mata kini mereka harus benar-benar berpisah tanpa komunikasi.

1983, bukan tahun dimana semua orang bisa berkomunikasi dengan handphone. Apalagi untuk sepasang kekasih yang hidup di pelosok Desa kecil. Ahsana dan Wawan hanya berbekal janji, dan berkomunikasi hanya melalui kekuatan doa. Doa adalah tempat mereka saling berbagi rindu, saling berbagi keresahan, dan saling mendoakan.

Hingga suatu hari, tepat di umur 25 tahun Ahsana mulai merasakan keresahan yang tak berujung. Karena tidak secarik kertas pun, sekecil apapun berita yang ia terima tentang kabar Wawan kekasihnya. Ia sering menangis, dan mulai ragu akan janji kekasihnya. “Mas, dimanapun kamu berada, aku akan menunggu janjimu satu tahun lagi. hingga umurku 26.” kata Ahsana dalam hati sembari berdoa dan menenangkan diri.

Kini, umur Ahsana sudah 26 tahun. Dan masih belum ada kabar dari Wawan kekasihnya. Ahsana berpikir bahwa Wawan sudah tidak mungkin menepati janjinya, dan sudah menikah dengan wanita lain. Ahsana berkata dan berkomitmen pada dirinya sendiri “Baik, waktumu sudah habis mas Wawan. Siapapun yang datang melamarku paling awal, maka dialah jodohku.”

Kemudian, datanglah seorang laki-laki yang melamarnya, dia adalah Herdi. Laki-laki yang sudah memiliki profesi dan materi yang cukup. Ahsana menerimanya sesuai apa ia katakan. Dan akhirnya terjadilah lamaran diantara keduanya, Ahsana dan Herdi.

Tepat satu minggu setelah Ahsana menerima Herdi, Wawan datang bersama anggotanya keluarganya dengan mobil dan barang-barang rumah untuk melamar Ahsana. Bahkan, Wawan sudah menyiapkan mas kawin. Hingga akhirnya, mereka bertemu. “Ahsana, aku sudah sukses, aku akan melamarmarmu dan manikahimu.” Ahsana hanya menangis dan memberitahu kabar yang sudah seharusnya Wawan tahu.

“Baiklah, jika memang kamu memilih Herdi sebagai suamimu nanti, terimakasih sudah pernah mau, dan membuatku berjuang hingga titik ini. simpanlah ini sebagai tanda rasaku yang tidak tau kapan akan berubah.” kata Wawan sambil memberikan cincin seberat 10 gram. Itu adalah Mas kawin yang nantinya akan untuk Ahsana. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Ahsana akan setia pada Herdi dan kisah Ahsan dengan Wawan berakhir di hari itu.

Sebesar apapun manusia saling mencintai, yang menentukan jodoh adalah Allah.