Cerpen : Pengalaman Pertama Mendaki Gunung dan Cinta yang Tak Terduga!

37

Aku tidak pernah berpikir sama sekali dalam hidupku akan menemukan sebuah cinta. Cinta yang sama sekali tidak pernah terlintas dalam benakku. Cinta yang mengubah cara pandanganku akan hidupku. Semua itu, berubah sejak aku berpetualang mendaki gunung Sibayak. Pendakian pertama mengubah mataku akan dunia ini.

Dunia yang dulu aku anggap adalah sebuah gedung pencakar langit. Kini berubah menjadi duniaku untuk mencintai alam sebagai tempat aku berpijak di bumi ini. Aku menemukan apa yang selama ini aku cari, yaitu jati diriku. Jati diriku untuk lebih mencintai negeriku sendiri. Melupakan ambisiku untuk bekerja di luar negeri. Memilih mengabdi pada negeriku tercinta, Indonesia. Karna negeriku Indonesia adalah surga yang aku cari selama ini. Negeriku menyimpan sejuta kekayaan alam yang tak ternilai harganya.

Gunung-Sibayak-Puncak
Gunung Sibayak

            Semua itu, berawal saat temanku meminta aku ikut bergabung dalam timnya mendaki gunung Sibayak. Dimana tidak pernah sedikit pun terpikir olehku untuk melakukan pendakian gunung. Saat itu, saat dia, meminta aku untuk ikut, aku menolak untuk ikut. Mengingat aku takut ketinggian, takut kelelahan. Tapi, temanku bernama Ratu mencoba menyakinkanku untuk tetap ikut.

            Katanya “Kamu tidak akan pernah melupakan pengalaman pertamamu mendaki gunung. Mendaki gunung memberimu kejutan yang sangat indah. Kamu bisa melihat matahari terbit dan matahari terbenam. Selain itu, kamu akan melihat gemerlap bintang-bintang terang di langit malam dari atas gunung Sibayak”.

            Ada rasa tertarik untuk ikut saat mendengar Ratu berkata seperti itu kepadaku. Tapi, aku tidak bisa. Ada kegiatan lain yang harus aku lakukan. Dengan sopan aku menolak ajakkan Ratu kepadaku. Namun, Ratu temanku bukanlah orang yang mudah menyerah. Dia tetap bersih keras memintaku ikut.

            “Kasih aku satu alasan kenapa kamu tidak ingin ikut?” katanya dengan nada tegas waktu itu. Nada yang menunjukkan kekecewaannya terhadapku.

            “Aku harus pergi ke Singapura.” Jawabku pelan tanpa melihat wajahnya. Aku tak ingin melihat kekecewaannya lagi.

            “APA….” Ratu berteriak kencang di depan wajahku waktu itu. “Singapura. Aku tidak salah dengar.” Katanya dengan nada tidak percaya. Lalu, aku mengangguk kepadanya dan berkata,

            “Iya, Itu benar.” Dengan nada pelan.

            “Bagaimana bisa?” tanyanya tidak percaya lagi. Mengingat kami berdua ini anak kost-kostan. Dimana keuangan kami selalu pas-pasan. Bahkan, tidak pasti.

            “Aku memenangkan lomba menulis dan hadiahnya liburan ke Singapura” jawabku senang.

            “Kapan kamu berangkat?”

            “Minggu depan.” Jawabku senang. Kulihat, wajah Ratu senang mendengar aku. Aku pun merasa lega temanku mendukungku. Tapi, nyatanya kesenangan dia untukku bukan karna aku memenangkan lomba. Melainkan, karna jadwal keberangkatanku ke Singapura. Rupanya, jadwalku tidak bertentangan sama sekali dengan jadwal mendaki gunung Sibayak. Mau tak mau, aku mengiyakan untuk ikut ke gunung Sibayak. Percuma juga memberi berbagai macam alasan. Ratu pastinya akan memaksa aku ikut.

            Tibalah, saatnya kami berangkat. Biaya dalam petualangan kami mendaki gunung Sibayak tidaklah mahal. Bahkan, bisa dikatakan sangat murah. Sebab, telah banyak akses jalan menuju gunung Sibayak. Banyak kendaraan angkot bersedia menjadi alat transportasi kami menuju daerah Brestagi lokasi pendakian gunung Sibayak. Sesampainya, kami di lokasi pendakian. Kami di minta oleh pihak pengurus gunung Sibayak mengisi data diri anggota yang mendaki gunung.

Guna untuk mendata jumlah orang yang mendaki pada hari itu. Tim kami berjumlah 10 orang. Terdiri dari 8 perempuan dan 2 laki-laki. Kami pada saat itu tidaklah langsung mendaki. Sebab, ada beberapa tahap yang perlu kami ketahui dalam mendaki gunung, terutama bagi pemula seperti aku. Jadi, kami harus mendengarkan aba-aba dari pihak instruktur yang sudah berpengalaman mendaki gunung Sibayak.

            Aku dengan seksama mendengar setiap arahan yang diberikan pihak instruktur gunung Sibayak. Karna aku sadar, aku minim pengetahuan tentang medan perang mendaki gunung. Apalagi ini merupakan pendakian pertamaku. Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan diriku. Karna minggu depan aku harus berangkat ke Singapura untuk seleksi lomba selanjutnya.

Aku berbohong kepada Ratu jika aku memenangkan hadiah liburan ke Singapura. Padahal, aku harus mengikuti magang menulis di salah satu majalah terkenal di Singapura. Aku tak mau gagal berangkat dan gagal seleksi karna mengalami kecelakaan kecil sewaktu mendaki gunung Sibayak.

            Di saat mendengar arahan, aku teralihkan dengan seorang anak laki-laki yang kuduga masih duduk di bangku SMP. Dia begitu antusias saat mendengar arahan. Aku menduga, anak tersebut pasti juga ikut mendaki gunung. Lalu, aku mendekatinya. Dia tersenyum kepadaku. Tanpa basa-basi aku bertanya kepadanya. Dia berada dalam kelompok mana? Rupanya, dia tidak masuk dalam tim manapun. Anak tersebut merupakan anak instruktur yang memberi kami arahan. Lalu, aku bertanya lagi kepadanya.

            “Kenapa kamu disini. Bukannya, seharusnya kamu dirumah belajar, besok sekolah?”

            Lalu, anak itu menjawab. “Aku suka disini. Melihat Bapak memberi arahan kepada kakak pendaki. Aku akan pulang setelah Bapak selesai memberi arahan kepada kakak pendaki.”

            “Kenapa?” tanyaku bingung. Apa menariknya melihat Bapaknya memberi arahan kepada kami. Nyatanya, sebagian dari temanku yang sudah sering ke sini. Malah bosan mendengarnya.

            “Karna Bapakku peduli kepada kakak pendaki. Bapak tidak ingin terjadi sesuatu pada kalian. Jika seandainya, kakak-kakak pendaki tidak tahu seluk beluk jalur pendakian gunung Sibayak.” Aku terdiam mendengarnya. Rasanya, seperti ditampar seribu kali. Bahkan, aku tidak pernah berpikir seperti itu. Sewaktu, Mama aku suka membantu orang. Justru, aku selalu kesal kepada Mamaku yang selalu membantu orang yang dia tidak kenal sama sekali.

            “Aku senang melihat Bapak membantu para kakak pendaki. Terlebih menjadi pemandu para pendaki. Soalnya, kata Bapak menjadi pemandu tempat wisatu itu sangat menyenangkan. Kita akan bertemu dengan banyak orang dan memiliki teman baru. Seperti kakak kepadaku.” jelasnya dengan senang kepadaku.

            Tapi, aku waktu itu belum bisa menerima perkataannya kepadaku.

            “Hal menyenangkan apa memandu pendaki, apalagi pendaki pemula seperti kakak” tanyaku karna menurutku itu bukanlah  hal yang membanggakan sama sekali. Menurutku, itu adalah sebuah pekerjaan.

            “Karna itulah, kak. Makanya menyenangkan. Rasa bangga bisa memperkenalkan keindahan alam negeri kita bagi mereka yang belum tahu, seperti kakak.”

            Aku kembali terdiam saat anak itu berkata “Keindahan alam negeri kita.” Aku tidak pernah kepikiran ke situ. Selama ini, aku selalu memuji keindahan alam negeri orang. Bahkan, saat ini, aku ikut naik gunung Sibayak hanya untuk menenangkan hati Ratu agar dia tidak kecewa kepadaku.

            “Saat kita memberitahukan sesuatu yang indah. Kita telah berpartisipasi untuk mencintai alam sendiri kak. Karna keindahan alam dalam negeri kita sangat indah. Sangat sayang kita sebagai pemilik dari keindahan alam itu tidak pernah menikmatinya. Malah menikmati keindahan negeri asing yang membuat dirinya lupa akan negeri sendiri yang juga memiliki keindahan alam.”

            Aku tidak tahu harus berkata apa lagi kepada anak tersebut. Rasanya, aku malu sekali. Aku seorang mahasiswi berpendidikan justru tidak mencintai negeriku sendiri. Malah malas untuk menjelajahinya. Tapi, anak ini. Masih duduk dibangku SMP sudah memiliki rasa cinta yang tinggi terhadap alam negeri sendiri.

            “Kakak kenapa hanya diam saja? Apa aku mengatakan sesuatu yang salah.”

            “Tidak. Justru kamu memberi kakak kesadaran.” Kesadaran untuk mencintai tempat kelahiranmu, tempat kau tumbuh besar.

            “Kesadaran. Maksudnya kak?” tanyanya bingung. Tapi, aku tidak menjawabnya. Aku harus segera pergi. Arahan telah selesai di lakukan. Kami harus kumpul bersama dalam setiap tim pendaki untuk berfoto sebagai bukti kenang-kenangan sebelum mendaki.

            Sebelum, aku melangkahkan kaki untuk mulai mendaki ke atas gunung Sibayak. Aku berdoa dalam hatiku. Meminta perlindungan dari Tuhan yang Maha Kuasa. Semoga aku mampu melakukan pendakian ini. Lalu, aku dan bersama tim mulai melangkah di perjalan pertama yang masih mudah untuk dilalui.

Jalur pertama merupakan jalur yang sudah di aspal. Meski, sudah di aspal ternyata tidak mudah. Karna jalur pertama, jalannya terus mendaki. Banyak dari kami terus kelelahan. Maklum kekuatan wanita selalu lemah dalam melakukan perjalan pertama sebelum mendaki. Karna itu kami selalu istirahat setiap 10 menit.

            Jujur saat itu, aku juga lelah. Tapi, aku berusaha untuk kuat. Aku begitu penasaran tentang kisah dari anak kecil tersebut kepadaku. Keindahan alam dari negeri kita sendiri. Karna itu, aku terus berjalan, melewati jalur tanjakkan. Hingga aku bersama tim berhasil menuju titik lokasi jalur pendakian yang sebenarnya.

Saat melihat, lokasi pendakian yang sebenarnya. Ada rasa takut dalam diriku. Apa aku bisa melakukan ini. Melihat jalur pendakian yang cukup ekstrim dan banyak batu dimana-mana. Salah sedikit bisa celaka. Apalagi kami mendaki pada malam hari dengan dibantu cahaya senter yang direkatkan di kepala kami masing-masing.

            Untungnya ada Ratu temanku memberi aku semangat. “Kamu pasti bisa, Lola. Jalur pertama bisa kamu lewati. Apalagi ini.” katanya tersenyum hangat kepadaku. Sementara itu, anggota lain sudah mulai mendaki.

            “Aku tidak yakin. Jalur pertama berbeda dengan jalur ini.” kataku ragu melihat jalur pendakian.

            “Kalau kamu percaya. Kamu pasti bisa.” katanya memberi aku semangat.

            “Semoga saja.” kataku menyakin diriku. Lalu, aku mulai mengikuti Ratu yang mendaki lebih dulu dariku. Aku pelan-pelan dalam setiap mengambil jalur dakian dan mendekatkan diriku kepada anggota lain. Sebagaimana instruktur menyarankan untuk tetap bersama tim.

            Ada rasa senang bercampur takut saat melakukan pendakian ini. Senang mendapat pelajaran tentang kerjasama dalam tim untuk membantu satu sama lain di cuaca yang dingin malam itu. Aku pun mulai mengerti kenapa banyak orang suka mendaki. Karna ini, kerjasama yang menguntungkan.

Rasa takut kadang muncul kalau kamu mengalami panggilan alam. Dimana tidak ada kamar mandi umum. Jadi, bagi kalian yang ingin mendaki. Usahakan tidak mengalami sakit perut. Karena sangatlah sulit mendapatkan tempat yang aman untuk panggilan alam tersebut.

            Setibanya, kami di kaki gunung Sibayak. Ternyata, sudah banyak pendaki yang lebih dulu sampai di kaki gunung Sibayak. Banyak tenda terpasang dan juga api unggun. Sebagian dari pendaki meluapkan kegembiraan mereka bernyanyi dan tak lupa menyapa para pendaki yang baru tiba, seperti kami misalnya.

            “Semangat berjuangnya ya” maksudnya berjuang mencari lokasi memasang tenda. Karna hampir semua di kaki gunung Sibayak terpasang tenda dari pendaki lainnya.

            “Iya, terima kasih.” Balas salah satu teman pria dari satu timku. Dalam mencari lokasi untuk memasang tenda. Tim kami bertemu dengan pendaki tunggal yang juga sedang mencari lokasi memasang tenda. Kami saling sapa dan memperkenalkan diri masing-masing.

Hingga memutuskan untuk membuat lokasi tenda bersama. Waktu itu, aku mendapat satu pelajaran lagi, dalam mendaki bisa membuat kita memiliki banyak teman. Karna kita akan bertemu dengan berbagai macam orang dari berbagai daerah dan profesi masing-masing.

            Aku jadi teringat dengan perkataan anak kecil yang aku jumpai sebelumnnya. Apa yang dia katakan ada benarnya.

            Tenda telah terpasang. Kami memilki dua tenda. Satu untuk perempuan dan satu laki-laki. Malam itu, kami semua kumpul-kumpul sambil bernyanyi. Melepas rasa lelah saat mendaki di medan terjal. Kami saat itu merasa bahagia. Kami mendaki di waktu yang tepat. Dimana untuk pertama kali. Aku mendengar suara letusan belerang dari kawah gunung Sibayak.

Melihat ribuan bintang bersinar terang dari atas gunung. Saat melihat bintang-bintang di langit. Aku merasa seperti di luar angkasa. Seolah, aku dapat memetik bintang tersebut. Aku tak lupa membuat permohonan kala aku melihat salah satu bintang terjatuh. Berdoa semoga aku dapat melihat keindahan alam lebih dari sini.

            Ada rasa kebanggaan dalam diriku bisa melihat ini langsung. Dimana mungkin hanya terjadi satu kali dalam hidupku. Bahkan, aku tidak peduli lagi dengan hembusan angin kencang menerpa kulitku meski aku sudah memakai jaket tebal. Keindahan langit malam waktu itu sangatlah mengagumkan untukku dan sulit untuk aku lupakan. Keindahan ini semakin mengagumkan kala aku dan bersama timku.

Melihat bagaimana proses matahari terbit di pagi hari setelah kami berhasil di puncak gunung Sibayak. Cahaya matahari yang memberi aku kehangatan dan terus mengukir senyum di wajahku. Sungguh pada waktu itu, aku sangat bersyukur bisa berada di tempat itu. Aku dapat menikmati keindahan alam dari negeriku sendiri yang selama ini yang tidak pernah aku ketahui.

Papan Puncak Gunung Sibayak

            Hingga pagi menjelang. Aku mendapat keajaiban saat itu. Aku melihat samudara awan yang luas dari puncak Ok gunung Sibanyak. Di moment itu, hal yang sangat menyenangkan. Awan putih berembun yang belum hilang di bawa terbang oleh angin. Terasa dirimu berada di negeri awan. Aku pun mulai mengerti tentang perkataan anak kecil tersebut itu kepadaku. Sangat disayang jika aku sebagai pemilik dari negeriku sendiri tidak dapat menikmati keindahan alam. Justru keindahan alam yang sebenarnya berasal dari negeri kita sendiri. Kita dapat menjelajahi tempat-tempat yang tak kalah indah dari negeri asing.

            Selain itu, dalam pendakian ini. Aku menemukan apa yang aku cari dalam hidupku, yaitu mencintai negeri kita sendiri. Menjelajahi negeri kita dan menunjukkan pada dunia. Bahwa negeriku Indonesia penuh dengan keindahan alam yang tak akan pernah dilupakan dalam hidup. Salah satunya, gunung Sibayak. Pendakian pertamaku ke gunung Sibayak membuka jiwaku untuk menjadi seorang petualang. Petualang yang akan menjelajahi negeriku Indonesia dari Sabang sampai Marauke.

            Dan saat itu, saat aku berada di puncak gunung Sibayak. Aku tak lupa mengucapkan terima kasih kepada Ratu.

            “Makasih sudah membawa aku kesini.” Ucapku memeluknya.         

            Berkat dia, aku dapat menikmati ini semua. Aku tidak akan pernah mendapat pelajaran pentingnya sebuah kerjasama dalam tim. Tetap semangat walau kita kelelahan dalam mendaki. Aku di ajarkan untuk tidak pantang menyerah. Terpenting, dalam pendakian ini. Aku di ajarkan untuk lebih mencintai negeri sendiri.

            Sebagai salah satu bentuk kecintaan kita pada negeri kita sendiri. Aku bersama tim saat mau turun tak lupa membawa sampah untuk menjaga kebersihan  gunung Sibayak. Untuk melestarikan keindahan alam gunung Sibayak, maka kita juga harus turut andil dalam menjaganya, seperti menjaga kebersihan gunung Sibayak dari segala sampah yang kita hasilkan saat mendaki gunung Sibayak.

            Petualanganku dalam mendaki gunung Sibayak. Membuat aku memutuskan tidak mengambil hadiah lomba menulisku. Hadiah lomba yang berkesempatan terbang ke Singapura untuk mengikuti magang selama satu bulan sebagai penulis di salah satu majalah terkenal di Singapura. Lalu, mempunyai kesempatan bekerja sebagai penulis tetap setelah lulus kuliah jika memenangkan lomba menulis tersebut.

            Karna itu, aku sadar. Aku harus berbakti pada negeriku sendiri. Aku tidak boleh tergiur akan uang dan pekerjaan yang menjanjikan tapi pada akhirnya kamu harus meninggalkan negeri tercintaku, Indonesia. Aku tidak mau itu terjadi. Aku ingin mengabdi pada negeriku. Jadi aku memutuskan menjadi seorang petualang. Menjelajahi seluruh wilayah Indonesia, memperkenalkannya pada dunia.

TAMAT.