Cerita Pendek : Tentang Juslo

46

Malam itu, malam tahun baruan bersama teman-teman satu kelas waktu SMA. Di rumah Ririn, kami mengadakan acara manggang-manggang. Kami makan dengan penuh sukacita. Setelah acara makan selesai. Kami berkumpul dan minum bersama sambil bernostalgia. Ketika bicara tentang nostalgia? Banyak dari mereka bertanya padaku. Apa sih Juslo itu?

            “Anjus Lola, ya..” jawab Jhonson, teman berkulit hitam, kurus dan dia mirip orang Papua, aslinya orang Batak Toba.

            “Enggak.. bukan. Kalian semua udah salah paham?” sanggah aku cepat. Mereka semua terlalu berpikir jauh tentang hubunganku dengan Anjus, yang sudah jadi mantan 4 tahun yang lalu.

            “Lalu apa. Kenapa di facebook kamu buat nama Juslo?” tanya Roris.

            “Rahasia. Pokoknya, ini gak ada hubungannya dengan Anjus. Juslo ini, udah ada sejak aku SMP, sebelum aku kenal kalian semua. Jadi, jangan salah paham.” tegasku. Semoga mereka semua percaya.

            “Alah.. gak usah bohong lagi, Lola. Kami semua udah tahu, kalau Juslo itu adalah singkatan dari nama kamu dan Anjus kan?” tekan Dinda padaku. Cewek berbakat, dia pandai nyanyi dengan suara bagus, pandai memainkan alat musik, punya selera humor.

            “Enggak Dinda.. Udah aku bilang kalian salah paham semua.” bantahku.

            “Terus apa dong, Lola? Jangan buat kami salah paham. Jika kamu aja gak mau cerita pada kami semua?” ucap Lisbet. Lalu, semua teman-temanku, setuju dengannya.

            Aku terdiam dan memandang ke arah mereka satu persatu. Dalam hatiku, berat untuk menceritakan ini. Tapi, aku juga gak mau mereka semua salah paham terus. Memang aku akui, aku pernah pacaran dengan Anjus. Tapi, Juslo tidak ada sangkut pautnya dengan Anjus.

            “Ok. Aku akan cerita.” Mereka semua diam dan memperhatikanku. Melihat ekspresi wajah mereka semua membuat aku kasihan pada mereka. Aku gak nyangka. Segitukah mereka penasaran dengan Juslo?

            “Juslo itu adalah singkatan namaku dengan seorang Misionaris suku Nias. Dia berkulit putih bersih, bermata sipit, tinggi dan memiliki wajah tampan. Namanya, Justrin Gulo. Awalnya, aku bisa bertemu dengan dia, gara-gara aku pindah sekolah dari SMP Rantau Kasai ke sekolah SMP Tamtim. Aku pindah sekolah, dikarenakan tanteku pindah tugas. Mau gak mau, aku harus ikut sama tanteku. Meninggalkan teman-teman baikku di Rantau Kasai.

Pertemuan itu terjadi, ketika aku sedang mengikuti latihan natal untuk anak remaja di Gereja HKBP. Waktu itu, dia datang bersama amang sintua. Dia datang ke latihan natal remaja, untuk membantu kami dalam latihan vokal suara. Dia sangat pandai bernyanyi, pandai main musik dan baik pada semua orang. Awalnya, aku sama dengan para gadis-gadis lainnya. Kagum akan ketampanannya.

Tapi, seiring berjalannya waktu, kekaguman itu. Berubah jadi perasaan yang tidak aku ketahui. Perasaan untuk pertama kalinya, aku rasakan di usiaku yang masih labil. Belum tahu apa-apa. Perasaan itu tumbuh setiap aku melihat dia menyebarkan Firman Tuhan, setiap dia memainkan alat musik dan bernyanyi untuk Tuhan. Padahal, dia tidak dekat denganku. Dia hanya menyebarkan firman Tuhan untukku dan teman-temanku. Dia sangat peduli kepada sesama, dia mau bekerja keras hanya untuk membantu saudara kita yang kesusahan. Dia tidak mengenal kata malu dan lelah.

Dia memiliki semangat yang tinggi. Terkhusus dalam menyebarkan firman Tuhan, untuk anak remaja seperti aku waktu dulu. Aku ingin sekali mengungkapkan perasaanku padanya. Tapi, aku sadar. Aku ini masih remaja, belum dewasa. Waktu itu, aku masih duduk di bangku kelas tiga SMP. Selain itu, dia seorang Misionaris. Dia hanya mengabdikan dirinya untuk Tuhan, untuk pelayanan, bukan mencari pasangan. Itulah yang membuat aku kagum padanya. Dia sangat teguh akan imannya. Dia tidak tergoda. Dia selalu mengatakan,

             “Aku datang untuk menyebarkan Firman Tuhan untuk kalian semua.”

            Mendengar itu, ada perasaan sedih. Dimana aku, tidak akan pernah bisa memilikinya. Walaupun, aku akan tumbuh dewasa untuknya. Dia sangat mencintai Tuhan melebihi apapun yang ada di dunia ini. Oleh karena itu, untuk menghilangkan sedikit kerinduanku padanya. Aku menggabungkan nama kami berdua menjadi “JUSLO”, yaitu: Justrin dan Lola. Aku selalu menggunakan Juslo di dalam setiap buku-buku aku dan barang-barang aku yang lainnya. Jadi.. begitu ceritanya. Aku harap kalian tidak salah paham lagi.”

            “Gila.. kamu suka sama Misionaris waktu SMP?” tanya Lisbet, yang kebetulan mengambil sekolah guru keagamaan.

            “Itulah dia, perasaan itu tumbuh tanpa kita ketahui. Kapan dia datang?” jawabku.

            “Terus apa kamu masih bertukar kabar dengan dia?” tanya Ira. Teman sekelasku yang mengambil sekolah jurusan menjahit.

            “Satu bulan sebelum pengumuman kelulusan SMP. Justrin pindah tugas pelayanan ke daerah lain. Sejak saat itu, sampai sekarang. Aku tidak pernah mendengar kabar tentang dia.”

            “Wow, lama juga ya. Kamu, udah tanya teman SMP kamu yang lain?” tanya Dinda.

            “Sudah. Tapi, mereka juga sama denganku. Tidak ada yang tahu kemana dia.”

            “Jika seandainya, kamu bertemu dengan dia. Apa yang akan kamu lakukan?” tanya Ririn, tuan rumah di acara tahun baruan.

            “Aku pastinya, melepas rindu dengannya dan sekaligus, mengungkapkan perasaanku.”

            “APA..” teriak mereka semua bersamaan. Hampir membuat jantungku copot.

            “Kenapa kalau boleh tahu?” tanya Citra yang sejak tadi diam mendengar kini dia bersuara.

            “Dulu aku masih SMP, masih takut bilangnya. Ya, sekarang, aku udah lulus kuliah. Pasti berani..”

            “Kalau dia nolak kamu gimana?” tanya Dinda perasaan.

            “Ya, wajar. Dia kan mencintai Tuhan lebih dari apapun. Dia seorang Misionaris. Terpenting, aku mengungkapkan perasaan ini, aku pernah suka padanya.”

            “Kalau sekarang hatimu gimana?” tanya Dinda dengan wajah mengodanya.

            “Hatiku siap terbuka pada siapapun.” Candaku.

            “Termasuk aku.” jawab Dinda mendekat ke arahku. Teman-teman yang lain tertawa.

            “Ya, enggaklah Dinda. Sama cowok maksudnya.” Jawabku cemberut dan mereka semua kembali tertawa. Itulah, Dinda temanku dengan segala humornya yang mampu mengundang keceriaan di tengah-tengah kami semua.

TAMAT