Cerita Pendek : Tentang Dia

130

Anak laki-laki tinggi itu kakak kelasku. Terkesan pendiam dan misterius namun selalu jadi incaran banyak gadis karena dia berwajah tampan. Dia juga pintar dan memiliki kulit putih pucat yang membuatku iri sejak pertama kali bertemu denganya. Lalu begitu saja, aku mulai mengisi waktu kosongku untuk memikirkannya.

Zero Azka Mevinzo. 17 tahun, duduk menyendiri di sudut perpustakaan bersama buku tebal yang entah apa judulnya itu. Hari ini, pukul 10.40 wib.

Wahai kakak kelas, kau dengan kaca mata barumu itu, sungguh ganteng sekali, hahaha.

Aku tersenyum sendiri menuliskan pikiran gila ku tentangnya. Jangan salahkan aku yang lebay ini. Salahkanlah dia yang terlalu sempurna itu. Entah kenapa aku bersyukur melihat kejadian 5 menit yang lalu, dimana kak Zero baru saja menolak pernyataan ke-89 dari sisiwi disekolah ini. Aku menambahkan kata hebat untuknya sebelum pergi menuju kelas dengan hati gembira.

Sepertinya dia demam. Ah, jangan bingung kenapa aku bisa tau. Meski wajahnya memang pucat dari dulu. Tapi aku tau kalau dia sedang sakit. Pokoknya aku mengetahuinya begitu saja. Atau mungkin ini efek dari terus mengamatinya selama 2 tahun 11 bulan ini.

Lagi aku melakukan hal bodoh. Sama seperti sebelumnya, ketika aku menyadari dia sakit. Diam-diam masuk kekelasnya di jam istirahat, meletakkan obat penurun panas yang tadi pagi ku minta di ruang kesehatan. Berharap kak Zero meminumnya dan cepat sembuh.

Dia terlihat mengerutkan dahi, lalu melihat kanan dan kiri merasa bingung siapa yang mengetahui bahwa dia sedang demam. Aku tersenyum senang karena tak lama setelah itu ia meminum obatnya.

Gadis ke-90 menyatakan cinta di depan pintu gerbang sekolah. Dan kak Zero menolaknya. Namun kali ini ada sungingan senyum diwajahnya. Sungguh, baru kali ini aku melihatnya. Terpesona namun bingung itulah yang membuat hatiku mendadak merasa tidak enak.

Kali ini jelas ada yang berubah. Dia bukan kak Zero si pendiam nan misterius yang ku kenal. Dia mulai ramah dan tersenyum pada siapa saja yang menatapnya, tak terkecuali aku yang ketahuan mengintipnya dari balik rak buku di perpustakaan.

Tidak….
Aku tak suka perubahan ini.
Entah kenapa aku merasa ada hal tak mengenakkan terjadi. Hal yang tak ingin ku bayangkan.

Apakah dia sedang jatuh cinta ???

9 hari lagi adalah hari kelulusan kakak kelas 3. Dan itu berarti, tinggal 9 hari ini aku berkesempatan mengamatinya seperti ini. Sial sekali!!. Aku baru sadar aku menyia-nyiakan waktu SMAku dengan hanya berani menuliskan tentangnya di buku catatanku.

Dia berubah jadi sosok seru, super ramah dan makin digilai bahkan bukam hanya oleh para gadis sekolah. Kepopulerannya bahwan membuat para gadia dari sekolah lain jatuh cinta padanya.

Lihat dia!. Kak Zero sedang ikut pertandingan basket antar sekolah, malah mendapat sorak semangat dari sekolah lain yang justru memicu keributan. Aku duduk di bangku paling sudut menghindari teriakan para penggemarnya, entah kenapa merasa kesal ketika melihat dia tersenyum. Kau terlalu populer, aku tidak suka. Tulisku lagi dibuku catatanku. Berharap dia tau, namun di satu sisi berharap dia tak pernah tau. Aku kan cuma salah satu penggemarnya. Yang diam-diam menikmati ke misteriusannya. Namun sekarang rasa itu berkurang dan terkubur oleh perasaan lain yang sungguh ingin ku abaikan.

Gadis ke-91 duduk bersamanya di kantin sekolah. Aku tau gadis itu teman sekelasnya. Juga tau gadis itu diam-diam memendam perasaan padanya. Sekarang ketakutanku akan dia yang mulai terlihat begitu ramah pada gadis itu membuatku sakit. Tidak, tolong jangan hancurkan perasaan ini.

Eh????
Dimana gadis 91 itu???. Kenapa sekarang dia bersama gadis 92, 93, 94, dan…96. Hello kakak???. Apakah kau sudah berubah jadi playboy?? Apa-apaan siang ini. Kenapa kau naik mobil dengan para gadis itu tepat di depanku. Tolong yah, aku harus menata hatiku dulu sebelum mulai patah hati. Jangan berubah mendadak dong!!.

5 hari ini aku tak mengikuti kegiatan kak Zero. Maksudku, aku mulai mengurangi aktivitasku menstalkernya. Tak tau mungkin dia masih bersama para gadis itu, atau sudah bersama para gadis lain. Dia kan memang populer. Mengingatnya hanya membuatku kesal saja.

Target baru.
Itu, dua kata yang ku tulis di buku catatanku tadi siang di perpustakaan. Di sela-sela menghindarinya juga menghindari kejaran para siswa baru yang meminta tanda tanganku.
Ma’af ya bukannya aku sombong. Biar ku ceritakan sedikit tentangku ini.
Aku hanya gadis SMA biasa, yang menjadi pengurus OSIS bagian mading sekaligus salah satu penulis cerpen di majalah sekolah. Kerjaku hanya seputaran kelas, ruang OSIS, dan perpus. Aku ini susah bersosialisasi dengan lingkungan luar tapi mampu mengutarakan isi kepalaku dalam tulisan. Intinya aku hanya cerewet dalam tulisan saja.

Mendadak namaku dipilih menjadi target tanda tangan tahun ini. Di sekolah kami, kegiatan minta tanda tangan ke kakak kelas saat MOS hanya di peruntukkan bagi nama yang terpilih saja. Dan sialnya malah namaku yang keluar.

Aku yang selalu gugup kalau di tempat ramai ini. Mendadak linglung ketika pagi tadi di kerumuni adik kelas. Dan tanpa sengaja menambrak kak Zero yang menatapku dengan pandangan tidak suka. Oh my God!!!. Pandangan itu sungguh menggores hatiku.

Maka dari itulah. Ku putuskan untuk mulai melupakan sosok dia yang selama ini mengisi buku catatanku. Atau juga hati dan pikiranku.

Tapi tak semudah itu kan. Entah kenapa tak pernah semudah aku jatuh cinta padanya. Melupakan itu sulit, berusaha mengabaikannya itu….malah hatiku yang sakit. Dan sialnya, kenapa aku harus terkunci di perpustakaan bersama dia di hari perpisahan sekolah ini.

Aku berusaha mengingat-ingat kejadian pagi tadi. Kejadian yang membuatku harus berurusan dengan kak Zero yang sekarang sedang berusaha menggedor pintu.

Aku berpas-pasan dengannya di pintu gerbang sekolah.
Kepala sekolah menunjuk ku dan dia sebagai perwakilan kelas diacara perpisahan sekolah. Kami ditunjuk sebagai pemberi dan penerima bingkisan hadiah perpisahan kepada siswa terbaik sekolah. Yah itu tentu saja dia.
Lalu, aku kabur lagi ke perpustakaan lantaran mungkin masih sekitar 100san siswa siswi kelas satu yang mengejar meminta tanda tanganku. Percayalah, hal ini kulakukan bukan karena aku niat menghidar, tapi itu hanya refleks ku lakukan karena mendadak takut.

Aku yakin sekali tak kan ada yang ke perpustakaan. Apalagi pada hari perpisahaan ini. Terutama untuk anak laki-laki paling populer macam dia. Tapi kenapa???. Kenapa dia ada disini???. Kemana penjaga perpustakaan saat ini??. Kenapa pintunya bisa terkunci??. Kenapa harus saat ini???.

Tik tok tik tok tik tok

Suara jam dinding tua perpustakaan terdengar begitu jelas. Si kakak kelas ini sudah berhenti berusaha menggedor pintu sejak 1 jam yang lalu. Tak ada lagi terdengar suara musik dari luar. Dan sepertinya pesta perpisahan sudah usai.

Aku menggaruk kepalaku yang tidak gatal. Menuliskan puluhan pertanyaan dan sapaan untuk memulai percakapan, namun tak pernah berhasil diungkapkan. Dasar penakut!!!

Hallo kak, perkenalkan saya adik kelas kakak. Saya salah satu mantan pengagum rahasia kakak. Sudah menjalani profesi itu hampir 3 tahun. Saya nggak jahat kok, juga nggak gila-gila amat. Cuma pengangum rahasia doang,hehehe.

Aku tersenyum membaca ulang hasil tulisanku. Yang pasti tak akan pernah kuungkapkan padanya.

“……..”
Aku mendadak gugup ketika sadar kak Zero menatapku. Sejak kapan dia melakukan hal itu??. Apa dia tadi melihatku tersenyum bodoh??. Jangan-jangan dia berpikir aku gila.

“Apa begitu seru??.”

Apanya???

Aku melihat dia menghela nafas dalam. “Apa menulis itu begitu seru??.”

“!!!!!”. Oh My God!!!!. Apakah dia….dia…sedang bertanya padaku???.

“Aku bertanya padamu.”

“……..”. Aku mengerutkan dahi bingung. Dia tidak sedang membaca pikiranku kan??. Tidak mungkin!.

“Bisa tolong jawab saja. Kamu bisa ngomong kan!!.”

Aku kembali mengerutkan dahi. Ini hanya perasaanku saja, atau…dia terdengar kesal padaku. Tapi kenapa??.

“Ya.” Jawabku singkat. Aku berbalik berjalan menuju arah lain yang pasti menjauh dari sosok yang ku kagumi selama ini. Nada bicaranya kembali menggores hatiku. Sepertinya, dia tak suka denganku. Jadi lebih baik jaga jarak saja.

Waktu semakin berlalu. Sepertinya tak ada yang menyadari kalau kami terkurung di perpustakaan. Padahal tas ranselku tadi ku letakkan diruang OSIS. Ponsel yang memang dilarang dimainkan waktu jam sekolah, ku letakkan di dalam tasku. Dan aku menyesal tidak membawanya.
Tunggu dulu….
“Apa dia tidak bawa ponsel??.”

“Tadi dipinjam teman untuk berfoto.”

“…….”. Aku menoleh terkejut. Sepertinya kali ini aku keceplosan bicara. Dan sejak kapan dia duduk disebelah ku??.

“Apa sih yang kau tulis??,” kak Zero bertanya sambil meraih buku catatanku dan dengan spontan langsung ku tarik dan genggam erat.

“Itu…catatan kelam.” Ucapku spontan. Dan kali ini, jelas aku melihat kak Zero terkekeh.

“Jadi aku kelam ya??,hahaha.” Dia…baru saja tertawa dan kali ini tersenyum kearahku. Tunggu dulu…..
“Dari mana kakak tau kalau….

“……”.
Lagi-lagi dia tersenyum dan itu berhasil membungkam mulutku yang hampir keceplosan ini. “Bukan tentang kakak kok!.” Jelasku berusaha menahan rasa gugup karena hampir ketahun menjadi pengagumnya.

“Benarkah??.”

Sial!!!. Raut wajah sedih macam apa itu???. Apa aku tidak salah lihat?. Kenapa dia bertanya dengan wajah sedih seperti itu??.

” Untukmu!.” Ucapnya sambil memberikan sebuah bungkusan. Aku bisa tau dari bentuknya kalau isinya adalah sebuah buku. Apa dia tau kalau aku hobby membaca??. Bagaimana dia bisa tau???.

Dia kembali menghela nafas dalam. ” Kamu itu hobby banget ngerutin dahi. Kalau penasaran tanya saja. Aku nggak bisa nebak dengan pasti apa yang kamu pikirin tentangku kalau kamu nggak nanya.”

oke. Aku menarik nafas dalam, menguatkan tekadku untuk bertanya.

“Kakak tau aku hobby baca??”

“Nggak!!.”

“Oh.”

Dia terlihat tak puas dengan jawaban singkatku. “Nggak mau nanya alasannya kenapa??. Nggak penasaran itu buku isinya tentang apa??. Nggak mau…..

“Kakak cerewet juga ya!.” Ungkapku tanpa sadar, dan itu membuat kak Zero melongo.

“Oo…itu ma’af.” Aku tertunduk malu dan bergeser berusaha menjaga jarak.

“Kamu….nggak mau ngasih hadiah perpisahan juga???. Yang lain pada ngasih loh. Bahkan pihak sekolah.” Kak Zero kembali bicara dan aku kebingungan menjawabnya.

“Masih kurang ya??,” Aku balik bertanya

“Apanya??”

Aku menatapnya bingung. “Udah dapat dari satu sekolah. Masih kurang??.”

Dia tersenyum polos sambil menyodorkan kedua telapak tangannya. “Kamu kan belum ngasih.”

Ha!!. Jawaban macam apa itu??. “Aku…nggak punya hadiah.” Jawabku sedikit merasa bersalah. Akhir-akhir inikan aku terlalu sibuk berusaha melupakan sosok dia di dalam hatiku. Jangankan bemberi hadiah, sekedar mengucapkan salam perpisahan saja aku belum tentu sanggup. Tapi sungguh, keberuntungan atau kesialan macam apa ini. Aku disini bersamanya bicara empat mata tanpa ada yang mengganggu. Bicara seolah kami adalah teman lama yang akan berpisah.

“Aku bakal kuliah di Padang, tadinya berencana nggak bakal sering pulang karena mau fokus kuliah, juga nggak berencana pacaran sebelum benar-benar sukses. Maksudku, cuma mau pacaran sama calon istri aja gitu. Tapi….mendadak aja ada yang berubah. Lalu mengacaukan semua yang udah direncanain dengan matang.”

???Nih orang…lagi curhat ya???. Jadi…aku harus kasih tanggapan apa??

“Ngerti nggak??.” Tanya kak Zero setelah penjelasan panjang lebarnya. Dan aku hanya menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaannya itu.

“Kamu nulis cerpen romantis, terbit tiap bulan. Di kodein gitu aja nggak ngerti.”

Ha??

“Makanya jangan ngayal terus. Kisah cinta khayalan kamu tu kadang agak nggak masuk akal dibacanya.”

-_-. Nyindir nih!!!. Aku yang agak tersinggung ini berniat beranjak pergi, tapi tiba-tiba saja kak Zero menarik pergelangan tanganku. Lalu menatapku tajam.

Duh….jangan ngedrama dong. Natapnya biasa aja.

“Jangan cari yang lain!.”

What!!!

“Aku bilang jangan cari target lain!!.”

……Ha???. Apanya???. Target apa??. Dia ngomong apa sih???

“Tuh kan!!. Kamu tuh beraninya cuma ngomong dalam hati doang. Padahal aku udah susah payah berubah sampai segitunya.”

Kak Zero terlihat sedikit kesal. Ia berdiri dan mengajak ku untuk pulang.

????. “Kunci???. Kakak punta kunci perpus??.” Aku benar-benar melongo ketika kak Zero dengan santainya mengeluarkan kunci dari dalam saku celananya. Dia diam saja tak menjawab pertanyaanku.

Keadaan di luar perpustakaan benar-benar sepi. Semuanya pasti sudah pulang lantaran ini sudah sore. Kak Zero menemaniku mengambil tas di ruang OSIS bahkan masih dengan wajah kesal, ia memaksa mengantarku pulang.

“Besok. Jam 10.30 aku ke Padang.” Setelah berkata seperti itu, kak Zero pergi meninggalkan aku yang sibuk bertanya-tanya di didepan pagar rumahku. Bagaimana dia tau alamat rumahku???.

Hitam. Bungkusan hadiah itu berwarna hitam, bukan dari kantong plastik. Hanya dari kertas karton warna hitam. Aku bahkan terlalu takut untuk membukanya. Tapi memikirkan hadiah dari kak Zero itu membuatku bangun kesiangan lantaran semalaman bingung antara membuka bungkusan itu atau membuangnya.

Waktu menunjukkan pukul 09.05 wib. Masih ada sedikit waktu kalau mau pergi ke bandara dan mengucapkan salam perpisahan yang baik dan benar. Mungkin, karena kemarin sudah ngobrol banyak (atau bahkan terlalu banyak) dengan kak Zero, aku merasa tak begitu grogi lagi padanya. Mungkin sih.

Aku menyempatkan membeli kamus dorlan di toko buku dekat rumahku, lalu setelahnya pergi ke bandara. Meski tak yakin bisa memberikan kamus dorlan ini sebagai hadiah. Atau mungkin tidak jadi diberikan karena yang lain disekolah pasti sudah ada yang memberikan hadiah seperti ini padanya. Jelas satu sekolah tau kalau kakak kelas super populer itu baru saja mendapat beasiswa kuliah kedokteran di Padang.

Bungkusan hitam masih rapi di tanganku. Aku masih takut membukanya. Mengingat-ngingat kembali pembicaraan kami kemarin. Aku merasa kak Zero tau tentangku. Sial!!!. Jangan-jangan, buku ini ungkapan kekesalannya padaku. Bagaimana ini???.

Aku melihat kerumunan itu. Aku yang   berdiri di balik tiang ini, menghindari gerombolan yang sedang mengelilingi sang kakak kelas tampan itu. Ternyata bukan aku saja yang diberi tau jam keberangkatannya ke Padang.

Hahhh. Kenapa jadi kecewa begini??.

Setelah menarik nafas dalam. Akhirnya aku membuka bungkusan itu. Isinya jelas cuma buku. Buku catatan bersampul hitam dengan judul tulisan tangan rapi si kakak kelas tampan “TENTANG DIA”

Dia indah namun tak bisa diraih.
Dia nyata namun juga maya diwaktu yang sama.
Aku jelas tak pernah jadi bagian dalam hidupnya.
Tapi rasa ini, begitu menyakitkan jika diabaikan begitu saja.

Ini tentang dia. Tentang seorang adik kelas yang membuatku tau tentang bagaimana rasanya jatuh cinta.

Hana Nanrista Randika

“…….”

ini…buku ini……

“Kamu…tadinya ku pikir nggak bakal datang.”

Sapaan itu mengejutkanku. Lebih mengejutkan daripada namaku yang tertulis dibuku itu.

“Ini…..
Aku bahkan tak bisa meneruskan ucapanku karena kak Zero tiba-tiba memelukku.

“Terima kasih sudah datang.” Ucapnya senang dan masih memelukku.

Kami baru sadar ketika nama lengkap kak Zero di panggil lewat pengeras suara. Dan aku baru sadar terhadap orang-orang sekitarku yang entah sejak kapan menatap kami dengan pandangan penuh tanya.

“Aku akan menelpon begitu sampai di Padang. Sampai jumpa.” Ucapnya kembali memelukku sebelum akhirnya benar-benar pergi.

“Jadi kak Hana yang selama ini di taksir kak Zero!. Ahhh.”

“……” what happen?? aya naon ini???. Yang barusan itu apa???. Aku kebingungan memikirkan tindakan kak Zero padaku.

“Jadi usahanya Zero selama ini nggak sia-sia dong. selamat LDR ran ya, hahaha. Hati-hati loh. Cowok ganteng banyak yang naksir. Mesti di teror terus.”

“…..”

“Cewek manis juga banyak yang naksir sih, hahaha. Kalau si Zero mendua, hati aku masih kosong kok. Kalau buat adek kelas kaya Hana sih yah, hahahhaa”

Pernyataan-pernyataan itu jelas membuatku gugup sekaligus bingung. Jadi aku hanya minta ma’af dan langsung pergi dati situ.

Menarik nafas lega karena langsung menemukan taksi, aku segera pulang kerumah.

Masih dag dig dug mengingat kejadian dibandara tadi, kuputuskan untuk membaca buku catatan pemberian kak Zero. Ada kertas terjatuh dari dalam buku itu yang isinya menjawab semua pertanyaan di dalam hatiku.

Jangan cari yang baru
Jangan cari target yang lain
Pikirkan aku saja
Tolong jatuh cintalah padaku saja
Karena selama ini hatiku hanya tertuju padamu saja.

– Zero Azka Mevinzo –
(0813-123234456)

Sial!!!
Aku tak tau lagi, hatiku benar-benar meledak gembira. Akhirnya…..perasaan yang terpendam selama ini tak menjadi sia-sia.

Nomor ponsel itu segera ku simpan dan tentu saja jawaban ‘OKE’ pun kukirimkan lewat pesan singkat sebagai kejutan begitu kak Zero tiba di Padang.

End…^-^…