Cerita Pendek : I Call You ‘A’

39

Mungkin perjumpaan kita memang sudah ditentukan. Perpisahan pun demikian. Kau datang saat aku benar-benar terpuruk. Kala aku merasa semua laki-laki itu sama, hanya bisa mengobral janji tanpa pernah menepati. Hanya mampu mengucapkan tanpa berniat menunaikan. Dia yang telah membuat hatiku patah, remuk dan hancur berkeping-keping, hingga rasanya tak bersisa lagi. Untuk tersenyum pun, aku tiada bisa lagi.

Satu malam, dalam munajatku aku bertanya kepadaNya, “Allah, kenapa Engkau beri aku luka seperti ini? Dia yang memintaku untuk setia, sekalipun tiada pernah ku dustai, sedetikpun tiada pernah ku berpaling. Sebab janji yang telah Dia ucapkan terlalu kupegang hingga kehancuran yang ku peroleh kini. Sekali lagi, berharap pada manusia hanya akan membuat kecewa. Benar, lagi-lagi kalimat ini benar. Allah, ampunilah aku, maafkanlah kesilapanku, sungguh meski tertatih ku ikhlaskan semua ini padaMu, Aamiin”.

Hari berlalu, minggu pun mulai berganti. Aku dengan hati yang hambar dikenalkan denganmu. Sikapmu yang ceria, juga pembawaan yang ramah, humoris lambat laun, meruntuhkan dinding besar yang sudah ku bangun untuk menutupi kepedihan ku. Apa yang sebenarnya kau miliki? Hingga benteng pertahananku runtuh. Apa yang tengah kau lakukan, hingga menarik ku kembali pada cerita yang hampir sama dengan tahun kepedihan itu?

Lama ku berpikir, mencari dan terus mencari, apa yang menyebabkan aku seakan menuruti setiap nasehatmu. Beberapa bulan berlalu, saat aku telah lama berkenalan denganmu. Tapi, sekalipun aku tiada sanggup ucapkan namamu di hadapanmu. Saat kita berbicara, kau selalu memaksaku untuk memanggilmu seperti yang lain. Tapi, lidah ku kelu, aku tiada sanggup mengucapkan nama itu di hadapan empunya. Hingga aku hanya bisa panggil ‘A’ saja.

Aku selalu berpikir, mengapa kita berjumpa? Mungkinkah Sang Pemilik Hati tengah mengujiku lagi? Ataukah ini hanyalah pelarian dari kekecewaan terbesarku? Aku bingung! Tapi, apapun itu, kehadiranmu adalah anugerah terbesar. Kau yang mampu membawaku keluar dari kemelut kekecewaanku. Kau yang kembali menuntunku untuk berjalan meninggalkan kenangan masa lalu. Meski terkadang kau sangat dingin ‘A’, tapi aku bersyukur bisa mengenalmu, bahkan sedekat ini. Hingga takdir mempertemukan kita kembali. Selalunya, kau nama yang ku sebut di dalam doa.