Cara Puasa Mutih Dalam Katolik dan Manfaatnya

85

Salah satu jenis puasa di dalam agama Katolik adalah puasa mutih, yang bagi orang awam puasa mutih dianggap berhubungan dengan hal-hal gaib.

Setiap agama yang ada di dunia pasti memiliki adat, cara, atau kebiasaan masing-masing. Tapi dari semua agama pasti memiliki tradisi yang hampir mirip, salah satunya adalah puasa yang tentunya sudah kita kenal.

Mayoritas agama (terutama agama di Indonesia) mengenal budaya berpuasa, dengan cara pelaksanaan yang mungkin berbeda tiap agamanya. Saat berpuasa, kita tidak makan atau minum dengan syarat tertentu sesuai cara agama masing-masing.

Di Katolik, terdapat beberapa jenis puasa, puasa wajib yang harus dilakukan oleh umat Katolik adalah puasa Pra Paska. Namun, puasa umat Katolik tidak hanya itu saja. Salah satu puasa yang sering dilakukan adalah puasa mutih.

Puasa mutih pada dasarnya merupakan puasa atau pantang makan dan minum, kecuali nasi putih dan air putih. Puasa mutih sebenarnya tidak hanya dilaksanakan oleh umat yang beragama Katolik.

Puasa mutih lebih banyak dilakukan oleh orang yang masih awam. Puasa jenis ini lebih sering dilakukan oleh penganut kejawen atau bagi mereka yang mempelajari ilmu supranatural.

Bagi mereka, puasa mutih dilakukan untuk mendapatkan suatu tujuan yang biasanya berhubungan dengan ilmu gaib. Namun, tentu puasa mutih Katolik berbeda. Agama Katolik tidak mendukung adanya hubungan dengan kuasa ilmu gaib.

Hal ini dijelaskan dalam ayat Alkitab tentang paranormal dan juga dalam ayat Alkitab tentang ramalan.

Cara Puasa Mutih di Dalam Katolik

Dalam penerapan puasa mutih Katolik ada beberapa cara, berikut cara melakukan puasa mutih bagi umat Katolik:

  • Puasa mutih pada agama Katolik dilakukan pada hari Rabu dan Jumat selama 24 jam penuh.
  • Puasa mutih Katolik, umat katolik hanya diperbolehkan memakan roti tawar atau roti gandum dan meminum air putih.
  • Puasa mutih pada Katolik tidak mengkonsumsi makanan atau minuman yang lain lain, khususnya makanan atau minuman yang memiliki rasa.
  • Roti tawan dan air putih dapat dikonsumsi kapan saja di saat umat merasa lapar atau haus.
  • Selama melakukan puasa mutih Katolik, umat tetap menjalankan aktivitas seperti biasanya. Namun, sebagai tambahan umat perlu melakukan doa Rosario untuk melengkapi rangkaian puasa.
  • Jika tidak ada roti tawar, boleh diganti dengan makanan pokok lain seperti nasi putih atau ubi jalar. Hindari makanan yang manis atau mengandung rasa. Namun, sebisa mungkin, tetap usahakan menggunakan roti tawar.
  • Bagi umat Katolik yang merokok, saat melakukan puasa mutih Katolik, umat tidak diperbolehkan untuk menghisap merokok.
  • Seperti puasa Katolik yang lainnya, umat perempuan yang sedang haid tetap diperbolehkan untuk melakukan puasa mutih Katolik ini.

Dari cara puasa mutih di atas, ada cara alternatif dalam menjalankan puasa mutih dalam agama Katolik:

  • Umat Katolik menjalankan puasa mutih selama 3 hari, 7 hari, sampai 40 hari tergantung kemampuan masing-masing.
  • Umat dapat memakan apa saja, yang penting tawar, tanpa garam, dan tanpa rasa.
  • Makanan yang boleh dimakan hanya makanan yang berwarna putih seperti nasi putih, roti tawar, dan putih telur.

Manfaat Puasa Mutih Katolik

Puasa mutih pada Katolik juga memiliki manfaat, antara lain:

  • Puasa mutih Katolik tidak fokus untuk menahan lapar. Puasa mutih Katolik lebih fokus kepada bagaimana umat untuk mengganti kebiasaan. Hal ini membantu kita untuk mengganti kebiasaan kita berbuat dosa.
  • Puasa mutih Katolik juga mengingatkan kita bahwa Tuhan sudah memberikan diri-Nya sebagai Roti Kehidupan.
  • Puasa mutih Katolik dapat membanatu kita untuk menguduskan kembali hati kita.
  • Puasa mutih Katolik membantu kita mengurangi rasa serakah.
  • Puasa mutih Katolik membantu kita lepas dari rasa tergantung akan kebutuhan jasmani.
  • Puasa mutih Katolik jika dilakukan dengan benar akan memberikan rasa sukacita.

Puasa mutih memang memiliki beberapa manfaat bagi tubuh dan iman kita, tetapi perlu diingat juga bahwa tubuh jasmani kita adalah Bait Allah yang perlu dijaga, jadi disarankan melaksanakan puasa mutih ini sesuai dengan kemampuan tubuh kita.