Buah Perjuangan dari R.A Kartini yang dapat Dirasakan (untuk Perempuan)

7

Sosok Raden Ajeng Kartini sebagai satu dari beberapa pahlawan perempuan yang dimiliki Indonesia adalah seorang bunga bangsa, sangat menginspirasi hingga saat ini. Tentu kehidupannya tidak semulus itu, banyak perjuangan yang Kartini lakukan untuk perempuan Indonesia. Demi kesetaraan hak antara kaum laki – laki dan perempuan dalam berkehidupan.

Sebelum RA. Kartini menyerukan emansipasi bagi perempuan, kehidupan perempuan kala itu masih tentang menikah, memasak dan mengurus rumah, dirasa tidak adil menurutnya karena laki – laki di zaman itu dapat menempuh pendidikan setinggi – tingginya. Kemudian R.A Kartini membulatkan tekad untuk memperjuangkan hak kaum perempuan.

Berikut merupakan hasil perjuangan R.A.Kartini yang dapat dirasakan oleh perempuan – perempuan millenial :

  • Mendapatkan Pendidikan

Pembahasan tentang pendidikan sebelum dan sesudah emansipasi memang sangat terlihat jelas, dari yang sebelumnya kaum perempuan termasuk Kartini hanya bisa bersekolah sampai SD saja pengetahuan dasar mambaca dan menulis dirasa sudah cukup didapat oleh kaum perempuan saat itu.

Akan tetapi tidak menurut RA.Kartini yang pada saat itu anak dari seorang bangsawan Jepara , cita – cita dapat menempuh pendidikan setinggi – tingginya harus pupus sebab larangan orang tua dan peraturan adat.

Sehingga R.A Kartini harus cukup puas bersekolah di ELS (Eurospeesch Lagere School) sebuah sekolah dasar bagi keturunan Belanda, Eropa maupun Pribumi yang tergolong dari keluarga terpandang.

Sedangkan, saat ini perempuan memiliki hak yang sama juga untuk mendapatkan pendidikan setinggi – tingginya sesuai keinginannya. Bahkan dulu masa R.A Kartini perempuan cukup memiliki tata krama yang baik, perkara ilmu pengetahuan biarkan menjadi tugas laki – laki. Bersyukurlah perempuan – perempuan masa kini dapat merasakan kebebasan menempuh pendidikan setinggi – tingginya.

  • Kebebasan Menentukan Jalan Hidup

Dimasa R.AKartini perempuan diwajibkan menuruti peraturan adat yang berlaku, seperti menentukan jalan hidupnya. Sedikit sekali kesempatan mengemukakan pendapat bagi perempuan saat itu. Sebagai perempuan yang cerdas, rajin membaca dan peka dengan keadaan sekitar. Membuat Kartini berusaha mendapatkan hak perempuan, yakni memilih jalan hidupnya sendiri.

Pada saat itu Kartini ingin sekali meneruskan sekolah di negara Belanda atau paling tidak ke Betawi untuk mewujudukan cita – citanya menjadi Dokter. Akan tetapi peraturan tetaplah peraturan, setelah lulus dari ELS, Kartini hanya berkegiatan dirumah selain berberes, memasak tidak lupa ia menyempatkan membaca membaca buku dan surat kabar.

Kemudian Kartini harus menikah dengan  laki – laki pilihan orang tuanya seorang yang telah memiliki dua orang istri, laki – laki tersebut merupakan Bupati Rembang. Setelah dipersunting cita – citanya tidak berhenti begitu saja. RA.Kartini meminta izin pada sang suami untuk membuat sekolah bagi kaum perempuan dan beruntunglah sang suami menyetujuinya, berdirilah sekolah bagi kaum perempuan tahun 1902.

  • Meniti Karir diluar Rumah

Pada bagian inilah begitu terlihat sekali perbedaanya, sebab di era Kartini seorang perempuan dilarang bekerja kecuali di dalam rumah mengurus suami, anak dan keperluan rumah tangga lainnya. Beruntunglah bagi perempuan masa kini karena dapat bekerja menjadi wanita karir tentunya setelah mendapat izin suami (Bagi yang sudah  menikah).

Setidaknya mereka tidak perlu berjuang berat seperti Kartini agar dapat bekerja. Tidak dapat dibayangkan bila hingga sekarang perempuan dilarang bekerja di era modern seperti ini. Kiranya seperti itulah harapan dari seorang Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak perempuan, menjunjung derajat kaumnya di satu level lebih rendah dari laki – laki.