Benarkah Internet Mati lagi Malam ini? Kominfo: Berita Itu Tak Benar!

20

Hari ini, Kamis, 23 Mei 2019 – Setelah sosial media Whatsapp hari Rabu (22/05) dilakukan pembatasan penggunaan untuk mengantisipasi beredarnya berita hoax. Ternyata, hal ini dimanfaatkan salah satu netizen untuk menyebarkan berita hoax terkait pembatasan sosial media.

Baru – baru ini, diketahui seorang netizen menulis sebuah tulisan yang isinya kurang lebih “Memberitahukan bahwa sinyal internet diberhentikan di seluruh wilayah Indonesia pukul 18.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB,”. Tulisan tersebut ia kirim melalui pesan singkat ke redaksi CNN Indonesia, Kamis (23/5).

“Semua aktivitas ponsel dan lain – lain terpantau 100 %. Mulai besok sudah berlaku, semua panggilan dicatat, semua panggilan telepon disimpan, Whatsapp dipantau, Twitter dipantau, Facebook dipantau, semua media sosial dan forum dimonitor”

Setelah dikonfirmasi mendengar kabar yang cukup mengejutkan ini, Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemeninfo) akhirnya buka suara untuk membantah kabar tidak benar yang netizen sebarkan di pesan Whatsapp tersebut.

“Informasi tersebut tidak benar. Pemerintah hanya lakukan pembatasan akses terhadap sosial media dan messaging app,” ujar Kepala Biro Humas Kominfo Ferdinandus Setu ke CNN Indonesia melalui pesan singkat yang diterimanya, Kamis (23/05).

Disisi lain Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Wiranto menegaskan bahwa gangguan pada media sosial akan berlangsung 3 hari sejak tanggal 22 Mei. Pembatasan ini hanya sementara karena aksesnya memang diperlambat, dampaknya pengguna sosial media kesulitan untuk mengunduh dan mengunggah foto maupun video.

Pembatasan ini dilakukan oleh operator sesuai dengan ketetapan pemerintah, jadi pembatasan ini bukan dari media sosial terkait. Untuk wifi yang digunakan untuk mengakses medsos seperti Facebook, Twitter atau Whatsapp pun sama dilakukan pemblokiran.

Pembatasan penggunaan sosial media yang dilakukan selama 3 hari berlangsung tidak secara frontal melainkan secara bertahap pada beberapa media sosial.

Sekali lagi, ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran berita hoax terkait politik yang sedang hangat – hangatnya diperbincangkan yakni berkaitan dengan aksi 22 mei. Hal ini adalah salah satu upaya pemerintah meredam kemarahan massa yang bisa dilampiaskan melalui berita hoax.

Tentu setiap isu yang beredar dapat meresahkan masyarakat. Saat ini, masyarakat sangat mudah percaya berita yang tersebar di dunia maya dan akhirnya menjadi tersulut karena pemberitaan yang tidak benar adanya.

Bukan hanya melalui pesan teks namun video dan gambar hoax yang dikirimkan melalui media sosial terbukti dapat memicu emosi masyarakat berimbas terjadinya perpecahan masyarakat Indonesia ke beberapa kubu.