Begini Peranan Orang Tua dalam Mendidik Anak Menurut Alkitab

340

Orang-tua-dan-anak

Bagi umat Kristen, anak adalah karunia (bdk. Maz 127:3), bukan hanya karunia bagi orang tua yang melahirkan atau keluarga tempat ia lahir dan tumbuh, tapi juga bagi kehidupan secara keseluruhan.

Anak seyogyanya bukan hanya kelahirannya karunia yang menjadi karunia, tapi keseluruhan dan sepanjang masa kehidupannya ia akan tetap dan selalu menjadi karunia bagi siapa saja.

Namun agar seorang anak benar-benar menjadi demikian, selain disediakan semua kebutuhannya, dilindungi dan dijaga, ia juga perlu dibentuk dan diarahkan atau dididik. Pendidikan dalam hal ini bukan hanya pendidikan formal di sekolah, tapi terutama adalah pendidikan dalam kehidupan sehari-hari di rumah di mana orang tua memegang peran yang sangat penting.

Alkitab sebagai landasan hidup orang Kristen telah memberikan dasar bagi orang tua dalam menjalankan perannya dalam mendidik anak.

  • Orang tua sebagai sumber atau tempat belajar bagi seorang anak

Di dalam Alkitab ada perintah kepada anak-anak untuk menaati dan menghormati orang tua, juga untuk mendengarkan ajaran dan didikan mereka.

Kolose 3:20 “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu dalam segala hal, karena itulah yang indah di dalam Tuhan.”

Ulangan 5: 16 “Hormatilah ayahmu dan ibumu, seperti yang diperintahkan kepadamu oleh TUHAN, Allahmu, supaya lanjut umurmu dan baik keadaanmu di tanah yang diberikan TUHAN, Allahmu, kepadamu”

Amsal 6:20-23 “Hai anakku, peliharalah perintah ayahmu, dan janganlah menyia-nyiakan ajaran ibumu. Tambatkanlah senantiasa semuanya itu pada hatimu, kalungkanlah pada lehermu.Jikalau engkau berjalan, engkau akan dipimpinnya, jikalau engkau berbaring, engkau akan dijaganya, jikalau engkau bangun, engkau akan disapanya. Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan,”

Ini semua menunjukkan orang tua adalah sosok yang sangat penting bagi seorang anak sehingga harus ditaati, dihormati, dan didengarkan. Tentu alasannya bukan hanya karena orang tualah yang melahirkan dan membesarkan mereka, tapi karena orang tua memiliki sesuatu yang membuat mereka pantas ditaati, dihormati, dan didengarkan.

Alasan sesungguhnya adalah karena orang tua memiliki segala sesuatu yang perlu dipelajari dan diikuti oleh seorang anak agar baiklah kehidupannya. Dalam hal ini orang tua memiliki peran sebagai sumber belajar bagi seorang anak. Anak belajar melalui kata-kata, tindakan, dan seluruh aspek kehidupan orang tua.

  • Orang tua sebagai pembimbing

Anak-anak yang berada dalam proses pertumbuhan membutuhkan bimbingan dan arahan dari orang dewasa, khususnya orang tua. Mereka masih perlu belajar memilih yang baik dari yang tidak baik, yang benar dari yang salah.

Amsal 22:6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.”

Amsal 22:15 “Kebodohan melekat pada hati orang muda, tetapi tongkat didikan akan mengusir itu dari padanya.”

  • Orang tua sebagai motivator

Orang tua juga memiliki peran sebagai motivator yang mendidik anak-anak dengan kesabaran, pengertian, dan lemah lembut.

Efesus 6:4 “Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

Amsal 31:26 “Ia membuka mulutnya dengan hikmat, pengajaran yang lemah lembut ada di lidahnya.”

  • Orang tua sebagai pemberi teladan (role model)

I Samuel 2 : 12 – 36

Perikop ini berkisah tentang Imam Eli, seorang imam besar selama 40 tahun. Kedua anak laki-lakinya juga menjadi imam juga, namun keduanya menjadi imam yang jahat. Mereka mengambil daging persembahan umat Israel untuk menjadi korban bakaran. Bahkan mereka mengambilnya dengan ancaman. Mereka juga tidur dengan perempuan-perempuan yang melayani di depan Kemah Pertemuan.

Dalam hal ini Imam Eli tidak mempersiapkan anak-anaknya menjadi imam yang baik, dalam hal ini juga dia telah gagal menjadi ayah yang baik. Ternyata imam Eli sebagai ayah dan imam, tidak meneladankan hal yang baik bagi anak-anaknya.

Dalam ayat 29 dikatakan “Mengapa engkau memandang dengan loba kepada korban sembelihan-Ku dan korban sajian-Ku, yang telah Kuperintahkan, dan mengapa engkau menghormati anak-anakmu lebih dari pada-Ku, sambil kamu menggemukkan dirimu dengan bagian yang terbaik dari setiap korban sajian umat-Ku Israel?”

Ibarat kata pepatah, ”guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Kegagalan Eli menjadi teladan bagi anak-anaknya membuat anak-anaknya melakukan hal yang lebih jahat dari apa yang dilakukannya.