BCF 2018 Mengupayakan Pengembangan Potensi Lokal

20
Sendratari Kolosal Hamemayu Borobudur. ( sumber : TWC Media ) 

Sebagai cagar budaya dunia, Candi Borobudur wajib dilestarikan keberadaannya . Sejalan dengan hal tersebut, PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan dan Ratu Boko  senantiasa berupaya mengembangkan  kawasan Borobudur  dengan bertitik tumpu pada ber potensi lokal yang ada di wilayah tersebut.

Setelah sukses dengan penyelenggaraan Borobudur Cultural Feast 2016 dan 2017, tahun ini TWC kembali menyelenggarakan Borobudur Cultural Feast 2018 pada 15 Desember 2018 di Taman Lumbini, Taman Wisata Candi Borobudur. Event ini merupakan wujud Sinergi BUMN dengan budayawan, seniman, musisi, dan pengrajin di lingkungan sekitar Candi Borobudur.

Marketing Manager PT TWC  Emilia Eny Utari mengungkapkan bahwa pelaksanaan Borobudur Cultural Feast 2018 tidak terlepas dari pesona dan magnet Candi Borobudur yang luar biasa. Sebab, Candi Borobudur bagaikan sebuah lampu besar menyala yang memberikan terang bagi lingkungan di sekitarnya.

Akan tetapi, sebaliknya kearifan lokal masyarakat di sekitar Borobudur memberikan ruh bagi geliat perkembangan pariwisata Borobudur. 
” Borobudur Cultural Feast  2018  ini  mulai kami ngagas  tahun 2016,  dengan kegiatan Sonjo Kampung  oleh Tim Jaringan Kampung Nusantara yang dikoordinasi oleh  artis Trie Utami .

Kemudian dilanjutkan secara rutin tiap tahun. Selain kegiatan kunjungan atau jagongan di desa-desa di sekitar Borobudur, juga mengetengahkan potensi lokal yang ada di sekitar Borobudur ” ujar Emilia kepada wartawan Sabtu (15/12/2018 )

Dijelaskan Emilia, salah satu kegiatan promosi potensi lokal tersebut antara lain dilaksanakan dengan penyelenggaraan Pesta Kuliner & Produk Kreatif, Panggung Seni Borobudur, Lomba Kreasi Masak Beong, Lomba Kreasi Busana Borobudur, Pesta Masak Besar dan Balkondes Nite.

Rangkaian kegiatan Borobudur Cultural Feast 2017 ini banyak melibatkan partisipasi warga masyarakat Borobudur.

Untuk BCF 2018, kearifan lokal yang ditonjolkan ialah Lomba Kreatif  dengan menggunakan  bambu dan kulit jagung, sedangkan Seni Pertunjukan yang  ditampilkan   berupa Sendratari Kolosal  “Hamemayu Haruming Borobudur”.  

Pentas kolosal ini sekaligus menjadi sebuah perenungan, permohonan kepada Tuhan YME agar kejayaan leluhur masa lampau dapat senantiasa terwujud pada masa sekarang sampai nanti. Diharapkan, penyelenggaraan kegiatan ini dapat terus mengembangkan pariwisata kita dan melestarikan kearifan lokal bangsa.