Miris! Baiq Nuril yang Menjadi Korban Pelecehan Malah Dihukum

64

Salah satu pegawai bayaran yang bekerja di Sekolah Menegah Atas Negeri 07 yang berada di Mataram bernama Baiq Nuril ini dihukum penjara selama enam bulan lewat salah satu keputusan MA (Makamah Agung) karena menyatakan dirinya telah melakukan penyebaran video rekaman suara tidak senonoh.

Baiq Nuril Maknun ini sempat menuliskan surat dengan tulisan tangannya yang berisi permohonan dari keadilan perkaranya kepada orang nomer satu di Indonesia, Presiden Joko Widodo. Nah, Baiq sendiri masih mengharapkan sebuah keadilan yang dapat ia terima. Ia masih sekali lagi menjelaskan dan memberikan klarifikasi kepada orang orang bahwa dirinya itu tidak bersalah dari setiap vonis ini.

Baiq Nuril sendiri sangat keberatan dengan setiap keputusan dari Mahkamah Agung yang memang dinilainya sangat tidak adil sendiri. Sebab, ia merasa bahwa dia adalah korban dari kasus perbuatan pelecehan yang memang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMA Negeri 07 berlokasi di kota Mataram. Pelecehan ini katanya terjadi tidak hanya satu kali saja, tapi sudah pernah lagi sebelumnya.

Salah satu kasus dalam pelecehan ini sendiri sudah dimulai pada tengah tahun 2012 sendiri ketika Baiq menjadi salah satu pegawai Honorer di SMA tempatnya bekerja ketika berada di Mataram tersebut. Katanya, permulaan dari pelecehan ini hanya dari telepon.

Pada suatu malam tersebut, tersangka yang merupakan Kepala Sekolah SMAN 07, berinisial M ini sendiri melakukan perbincangan hingga lebih dari 20 menit. Memang dalam pembicaraan tersebut, juga ada pembicaraan mengenai pekerjaan mereka, dan hanya memakan waktu 5 menit sisanya. Nah untuk 15 menit dan sisa dari situ, si pelaku yang merupakan M itu menceritakan jika ia pernah berhubungan seksual di luar rumah, alias tidak dengan istri sahnya.

Dari sini, perbincangan dari Kepala Sekolah ini semakin lama semakin mendalam dengan nada-nada ingin melecehkan Baiq sendiri. Lebih dari pada itu, si Kepala Sekolah ini sendiri menelepon Baiq tidak hanya sekali saja, namun banyak. Baiq sendiri juga merasa sangat terganggu dengan apa yang di lakukan M ini sendiri melalui kata kata dan verbal. Bahkan orang-orang terdekatnya termasuk teman di sana juga berpikiran bahwa Baiq memiliki hubungan tertutup dengan Kepala sekolah itu.

Karena semakin lama perbincangan tersebut membuat setiap orang yang mendengarkannya jengkel, termasuk di dalamnya adalah Baiq, maka ia berpikir untuk merekam pembicaraan dan perbincangan mereka berdua untuk membuktikan kepada semua orang terutama adalah bosnya bahwa dirinya benar tidak memiliki hubungan apa – apa dengan Kepala Sekolah tersebut.

Karena tidak bisa menyimpan sendiri lebih lama lagi, maka disebarkan oleh salah satu rekannya ke Dispora (Dinas Pemuda Olahraraga) yang memang terletak di Mataram, namun dengan temannya ini sendiri disebarluaskan oleh banyak pihak sehingga semua orang mengerti bahwa Baiq dan Si M ini sendiri tidak memiliki hubungan.

Nah, walaupun Imam yang berperilaku seperti itu, namun di sini M yang merupakan pelaku malu aibnya disebarkan, dan dirinya langsung melapor ke polisi dengan pasal 27 ayat 1 UU ITE. Padahal yang menyebarkan ini adalah bapak Imam, bukan Baiq.

Pada kasus ini sendiri memang diproses di meja hijau sendiri. Lalu, setelah laporan ini sendiri ditindaklanjuti ternyata memang Baiq dinyatakan tidak bersalah dan memang bebas. Karena Jaksa merasa kalah, akhirnya mereka banding ke Mahkamah Agung, disinilah pada September akhir lalu, Baiq dinyatakan bersalah. Tentunya ini sangat tidak adil untuk Baiq dan keluarga sendiri.