Bagian Terbaik dari Buku Titik Nol – Makna Sebuah Perjalanan

23

Buku Titik Nol – Makna Sebuah Perjalanan, ini ditulis oleh travel writer bernama Agustinus Wibowo. Buku ini bercerita tentang perjalanan Agustinus menjelajah negara-negara di Asia.

Buku ini sangat bagus karena mengungkap makna dari sebuah perjalanan itu sendiri, buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh para backpacker, traveler, atau siapapun yang ingin suka melakukan perjalanan untuk mengetahui makna yang sesungguhnya dari suatu perjalanan. Pada buku ini banyak sekali kata-kata yang memotivasi, cerita yang sangat lucu, menyentuh hati, menginspirasi dan menyadarkan makna dari sebuah perjalanan.

Baiklah berikut ini adalah bagian terbaik dari buku Titik Nol – Makna Sebuah Perjalanan yang telah dirangkum menjadi satu:

1. Saya baru tahu, ternyata di beberapa negara, sebuah agama seolah menjadi sebuah dagangan yang para turis dibeli dan senangi, “Eksotisma religia: sekarang mereka punya dagangan baru agama” (Titik Nol, hal: 104).

2. “Pada suatu ketika, di tanah Arabia, putri cantik Shahrazad mulai mendongengkan rangkaian kisah untuk memperpanjang umurnya. Setiap hari, satu cerita. Agar sang baginda raja bersabar menunda keinginan untuk memenggal kepalanya. Potongan kisah terus mengalir, satu cerita berarti 1 hari tambahan hidup bagi Sahrazad. Demikian berlangsung terus hingga 1000 malam” (Titik Nol, hal: 15). Di salah satu televisi swasta di Indonesia, beberapa waktu yang lalu ada film yang berjudul Shahrazad, dan ternyata cerita ini diangkat dari cerita putri Arab.

3. “Backpacker, Turis, Traveler, Flashpacker, Travel writer, Fotografer berbagai varian dari spesies yang sama “Homo Turisticus” (Titik Nol, Hal: 173). Apabila ada ilmuwan di bidang biologi, mungkin kita bisa memberikan gelar ilmuwan di bidang perjalanan kepada Agustinus yang telah menemukan spesies baru yaitu homo turistic.

4. Ku Beri Judul Pro dan Kontra Si Penjelajah dan Penjajah.

“Bukan kebetulan pula kedua kata ini dalam Kamus Bahasa Indonesia adalah sinonim. Kita yang dengan bangga menyebut diri sebagai Penjelajah, pada hakikatnya juga adalah Penjajah. Kita bertopeng sebagai Traveler atau Backpacker. Turisme telah menjadikan tempat-tempat sebagai “atraksi”: “where to go” dan “what to see”. (Titik Nol, hal 182).

Siapa yang menyangka bahwa orang-orang dengan bangga menyebut dirinya penjelajah sebenarnya adalah penjajah?

5. Aku rasa seorang traveler sejati, atau penjelajah sejati, atau pencinta alam sejati harus membaca buku ini terlebih dahulu, agar ketika melakukan perjalanan memiliki ilmu yang bisa diandalkan untuk menjaga alam

“Penulis perjalanan Paul Theroux berkata “begitu sebuah tempat di sebut surga, segera pula dia akan berubah menjadi neraka”” (Titik Nol, hal: 185).

6. Dari buku ini kita belajar rasa syukur. Rasa bersyukur apa yang telah dimiliki selama ini, check this quote:

“Dari sekian banyak ternakmu, kau hanya butuh 2 gelas susu,
Dari sedemikian luas tanahmu, hanya segenggam gandum,
Dari sebegitu besar rumahmu, hanya separuh kasur,
Wahai manusia, apalgi yang masih kau tuntut?
(Quote-China)” (Titik Nol, hal 158)

7. Aku baru sadar terkadang seorang petualang, atau pengembara terkadang jiwanya juga akan berada di titik kesepian, ketika memberanikan diri untuk berjalan jauh tetapi tak ada yang benar-benar ada di sisinya. Mungkin Agustinus pernah merasakan hal tersebut.

“Aku hanyalah petualang yang menawarkan telinga, cerita, persahabatan, lalu lenyap begitu saja. Itulah realita seorang pengembara, hadir sesaat, sabar mendengar kisah, seolah untuk berbagi derita, lalu pergi menghilang tanpa jejak seperti angin serembus” (Titik Nol, hal 338).

8. Di negara Afghanistan di tengah kemelut negara yang membara masih menghormati tamu sebagai raja, sangat sesuai dengan ajaran Islam. ketika Agustinus pergi ke rumah seorang dokter di Afganistan, lalu saking dokter tersebut menghormati tamu yang hadir ke rumahnya, dipotongnya lah semua ayam yang ada di rumahnya untuk dimasak dan disajikan kepada Agustinus. Yaaa benar semua ayamnya, Padahal si dokter tidak makan ayam, tapi ada hal yang lucu, dari semua ayamnya yang dipotong ada yang tidak dipotong yaitu ayam betina, mengapa begitu? Sang dokter menjawab “Apabila ayam betina dipotong maka aku tak akan pernah bisa makan telur lagi (Titik Nol, hal 335).

9. Perbedaan Turis dan Traveler (Titik Nol, Hal 233), katanya:

  • Turis pasti menginap di hotel mahal, sedangkan Traveler di rumah penduduk lokal.
  • Turis bawa koper, traveler bawa ransel.
  • Turis naik pesawat, traveler jalan darat.
  • Turis ikut tour terima jadi, traveler berpetualang sendiri.
  • Turis suka manja, traveler doyan derita.
  • Turis banyak duit, traveler pada pelit.
  • Turis bawa buku panduan, traveler mengintil angin.
  • Turis selalu bilang “I am traveler, Traveler bilang “Who cares?”.
  • Turis adalah traveler amatir, traveler itu Turis profesional.
  • Turis selalu berdebat beda antara Turis dan traveler, sementara si traveler Cuma tertawa.
  • Paul Theroux bilang Turis tak ingat tempat mana yang sudah dikunjungi, traveler malah tak tahu kemana mau pergi.

10. Kisah Sang Pencinta Pohon

“Inilah India, dengan kontra-kontra dahsyat yang saling bertabrakan, masyarakat Jodhur selalu mengisahkan sejarah legendaris tentang cinta yang mampu mengalahkan segala: alkisah Maharaya Jodhur di abad ke-18 mau membangun benteng raksasa. Dia mengirim tentaranya mencari kayu. Para tentara datang ke desa di pinggir gurun, tempat satu pohon besar. Tetapi warga penganut Bishoi disini terlalu mencintai alam, menebang pohon adalah kejahatan tak termaafkan. Armita di gadis desa langsung memeluk pohon besar itu, sambil berseru ke arah bala tentara: tebanglah aku dulu sebelum kalian tebang pohon ini! Para tentara pun langsung mengayunkan kapak. Crot…Armita mati ditempat. Penduduk desa semua marah, tapi bukannya menyerang tentara, mereka justru mengikuti jejak Amrita, memeluk pohon itu dan pasrah pada ayunan kapak para tentara. Para tentara raja tau berbelas kasihan, setiap orang yang menghalang pasti langsung sitebas. Satu mati, yang lain menyusul. Begitu seterusnya, darah membanjir. 363 penduduk tewas hanya demi menyelamatkan sebatang pohon” (Titik Nol, hal 266).

11. Keramah tamahan orang Pakistan

“Pernah aku kehilangan uang saat menginap di rumah orang (yang sering kedatangan tamu, si tuan rumah kemudian diam-diam menyelipkan uang yang lebih banyak ke dalam tasku untuk menggantikannya. Kejujuran dan keramahan orang Pakistan ini sungguh membuatku malu. Tak berlebihan kalau dari semua negara yang pernah kukunjungi Pakistan adalah yang paling ramah. Orang mengatakan Menhmannarazi atau keramah tamahan adalah ajaran Islam. Semua bilang: seperti itulah wajah Islam (Titik Nol, hal 450).

12. Kebebasan yang Terlalu Membebaskan

“Ajaran Zen bilang, kita takkan melihat bayangan refleksi di atas sungai yang mengalir. Bayangan itu baru terlihat di air yang tenang. Berhenti sejenak, berhenti berpindah, duduklah, beristirahatlah. Dalam perhentian, lihatlah dirimu sendiri (Titik nol, hal 476).

Agustinus pernah bilang didalam bukunya, apabila kita sudah mendapatkan kebebebasan yang terlalu membebaskan, maka terkadang kita menanyakan nilai dari kebebasan itu sendiri. Semua jawaban yang kita cari dalam perjalanan ada di rumah, maka pulanglah.

Baiklah itulah dua belah bagian terbaik dari buku Titik Nol – Makna Sebuah Perjalanan, semoga bermanfaat dan menginspirasi kita semua.