Bagaimana Pandangan Islam Tentang Wanita Karir

66

Di masa lampau, wanita masih sangat terikat dengan nilai adat dan aturan yang mengakar di tengah-tengah masyarakat. Sehingga jika ada wanita yang berkarir untuk mengembangkan keahliannya di luar rumah, mereka dianggap telah melanggar tradisi sehingga mereka dikucilkan dari lingkungannya.

Akan tetapi sejalan dengan perkembangan zaman, kaum wanita yang tinggal di kota-kota besar cenderung untuk memilih menjadi figur yang berperan penting untuk mengembangkan diri sehingga tak heran sebagian dari mereka memiliki jabatan dan pekerjaan penting di dalam masyarakat dan tidak lagi dimonopoli kaum laki-laki. Lantas bagaimana Islam menyikapi wanita karir ?

Wanita karir adalah seorang wanita yang memiliki kesibukan selain kesibukan rumah tangga, baik yang dilakukan di dalam rumah atau di luar rumah, baik yang bersifat bisnis atau sosial. Dalam pandangan islam, ada beberapa hukum yang membolehkan sekaligus juga ada yang melarangnya.

  • Pendapat yang membolehkan yaitu:

Mereka mengacu pada istri-istri Rasulullah SAW, seperti Siti Khadijah yang merupakan seorang wanita yang aktif dalam dunia bisnis, dan juga Siti Aisyah yang juga aktif dalam masyarakat umum. Wanita bekerja dibolehkan karena tidak ada nash syara’ yang shahih periwayatannya dan sharih (jelas) petunjuknya. Namun demikian, ada syarat-syarat yang harus terpenuhi jika wanita bekerja, yaitu :

  1. Pekerjaan itu tidak haram dan tidak melanggar syariat.
  2. Tidak mengabaikan kewajiban utamanya terhadap suami dan anak-anaknya (bagi yang sudah menikah).h
  3. Harus mendapatkan izin dari walinya, yaitu Ayah atau suaminya.
  • Pendapat yang melarang didasarkan pada Firman Allah SWT.

Dalam Al-Qur’an Surat An-Nisa‘ ayat 34 :

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ

Artinya: “Orang-orang lelaki itu adalah Qawwamun ke atas para wanita dengan apa yang dilebihkan Allah ke atas sebahagian kamu dari sebahagian yang lain, dan dengan apa yang mereka nafkahkan dari harta mereka.” (al-Nisa’: 34).

Dan juga sabda Nabi SAW :“Dan istri adalah pemimpin di rumah tangga suaminya dan anak-anaknya dan ia dimintai pertanggungjawaban tentang mereka dalam (kepemimpinannya).”Dengan demikian, maka istri tidak dituntut untuk bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhannya.

Akan tetapi Islam tidak memberatkan kaumnya. Para wanita boleh berkarir dengan alasan berikut ini :

  1. Apabila tidak ada yang mencukupi kebutuhannya
  2. Apabila suami sakit, istri boleh menggantikan kewajibannya untuk mencari nafkah
  3. Membantu suami atau orangtaua untuk mencukup kebutuhan keluarganya.

Nah dengan beberapa alasan diatas, maka para wanita dibolehkan berkarir dengan catatam tidak melanggar aturan syara’.