Apakah Televisi Ikut Andil dalam Menyebarkan Berita Hoax?

57

hoax

Penyampaian berita yang disiarkan di televisi (TV) lebih mudah diketahui oleh masyarakat luas, karena semua orang mempunyai televisi di rumah. Siang dan malam mereka pasti  menonton berita di televisi, termasuk para orang tua, anak-anak sampai kakek dan nenek mendengarkan berita yang disampaikan di televisi.

Media penyiaran berita di televisi terkadang secara langsung menyiarkan berita di tempat kejadian TKP dan berwawancara dengan narasumbernya dalam peristiwa yang diberitakan. Jadi tidak mungkin bohong atau hoax dalam menyampaikan berita, karena berita tersebut asli dari narasumbernya. Kalau berita tersebut bohong atau hoax maka itu bukan kesalahan reporter di televisi, tetapi kebohongan dan hoax berasal dari narasumber tersebut yang sengaja melakukan kebohongan publik.

Ada juga penyiaran berita yang disampaikan oleh reporter televisi yaitu mengambil berita dari video yang viral di masyarakat  yang ditonton ribuan orang, tentang penipuan atau tentang oknum yang menyalahgunakan jabatannya. Dan tentang anak-anak sekolah SD yang meneriakan “2019 ganti presiden”. Video memang bisa diedit suaranya dan bisa diganti dengan suara orang lain, jadi tidak semua video asli, ada juga yang palsu.

Karena berita di televisi lebih banyak direkam langsung, maka tidak diragukan kebenaran berita di televisi seperti berita tentang petani di Ponorogo yang mendapat sumbangan traktor pembajak sawah dari pemerintah. Ternyata traktor pembajak sawah tersebut ditarik kembali oleh konsumen setelah usai acara. Apakah rekaman berita yang disampaikan oleh TV media swasta tersebut merupakan berita asli, ataukah berita bohong atau hoax?

Hasil gambar untuk Foto traktor alat pembajak sawah di ponorogo sumbangan jokowi

Penyampaian berita oleh reporter televisi dijamin asli dan akurat karena bertanya langsung pada salah seorang petani di Ponorogo yang merasa bingung dan heran kenapa traktor tersebut ditarik kembali oleh konsumen setelah usai acara. Kemudian ada berita juga tantang Mahfud MD akan jadi calon wapres Jokowi, ternyata Mahfud MD yang sudah ukur baju tidak jadi dipilih jadi calon wakil presiden Jokowi, tentu saja Mahfud MD dibuat malu karena dibohongi. Apakah kasus seperti Mahfud MD ini termasuk berita hoax ataukah tidak? Berita Hoax atau kebohongan itu berasal dari pelakunya bukan dari media pemberitaan televisi.

Dampak dari perbuatan kebohongan atau hoax yaitu menjatuhkan harga diri orang lain sehingga dibuat malu. Pengguna jejaring sosial Facebook dan Twitter yang banyak terkena kasus penyebaran berita kebohongan atau hoax, karena mereka sendiri hanya membagikan berita yang dianggap mereka menarik untuk diketahui teman-temannya. Ternyata berita tersebut hoax, sehingga ditangkap karena dianggap ikut menyampaikan ujaran kebencian, sedangkan pelaku pembuat berita pertama tidak ditangkap.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Rikwanto, menyampaikan orang yang menebarkan informasi palsu atau hoax di dunia maya akan dikenakan hukum positif. Hukum positif adalah hukum yang berlaku. Penebar hoax akan dikenakan KUHP, Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE), Undang-Undang No. 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis, serta tindakan ketika ujaran kebencian telah menyebabkan terjadinya konflik sosial.

Masyarakat pengguna jejaring sosial tidak tahu mana berita asli dan mana berita yang bohong atau hoax, kecuali ada badan khusus yang memeriksa setiap berita. Sehingga video hoax langsung saja dihapus dari peredarannya. Karena ada berita yang memang benar terbukti kebenarannya sesuai kejadiannya dan ada berita yang direkayasa tidak sesuai dengan kejadiannya, dibuat dengan tujuan untuk membohongi orang lain.

Seperti kasus Ratna Sarumpaet, semula tujuannya untuk membohongi keluarganya sendiri ternyata dipakai juga untuk membohongi Prabowo Subianto bersama tim suksesnya. Bahkan sudah tersebar diberita televisi dan di jejaring sosial serta surat kabar tentang wajah Ratna Sarumpaet rusak dan bengkak, akibat dianiaya dan dipukul orang sehingga Prabowo berusaha ingin membantu proses kasus pemukulan pada Ratna Sarumpaet.

Ternyata hasil penyelidikan Polda Jakbar, kasus Ratna Sarumpaet ada kejanggalan. Karena pada tanggal 21 September 2018 sebenarnya tidak ada konferensi negara asing di Bandung. Sedangkan dipemberitaan Ratna Sarumpaet dianiaya setelah menghadiri konferensi negara asing di Bandung. Setelah ketahuan kejadian tersebut tidak masuk akal, lalu Ratna Sarumpaet mengakui kebohongannya dengan sengaja merekayasa cerita kebohongan, wajahnya rusak sebenarnya bukan dianiaya orang tetapi akibat operasi plastik.

Media pemberitaan tidak tidak bisa disalahkan karena tidak tahu antara bohong dengan tidak karena sesuai pengakuan narasumber aslinya yang didapat oleh wartawan.

Begitu juga orang kedua yang menyebarkan video atau artikel kepunyaan orang lain. Dia sebenarnya tidak tahu kalau berita tersebut hoax atau bohong. Seharusnya orang kedua yang menyebarkan berita hoax hanyalah diberi peringatan pertama, apabila melakukan lagi yang kedua kali bisa diproses secara hukum. Karena penyebaran berita bohong atau hoax di televisi juga ada. Apakah diberi sanksi peringatan bagi televisi media telekomunikasi  yang melakukan pemberitaan bohong atau hoax?