Apa Tanggapan Cendekia dan Tokoh Hukum Mahfud MD Sampai Musisi Iwan Fals tentang Reuni 212? Berikut Paparannya!

39

Peristiwa besar yang dilakukan tepat di jantung ibu kota, yaitu Reuni Akbar 212. Yang dihadiri oleh jutaan peserta aksi damai dari seluruh penjuru nusantara. Peristiwa yang menghadirkan jutaan orang peserta ini ternyata sudah tampak sejak sehari sebelum Reuni akbar diadakan. Para umat muslim menghadiri Reuni sejak (1/12/2018) dan memenuhi lokasi tempat digelarnya acara Reuni 212.

Reuni Akbar 212 merupakan peristiwa monumental untuk mengingat peristiwa dua tahun lalu, yang pada saat itu jutaan umat islam menggelar acara serupa di jantung ibu kota ini. Tetapi pada saat itu, dikenal dengan nama Aksi Bela Islam III atau yang juga dikenal dengan aksi Reuni 212.

Saat itu aksi tersebut bertujuan untuk mendesak para aparat kepolisian untuk segera memproses Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau yang kerap disapa Ahok yang dengan dugaan telah menista agama Islam.

Menurut beberapa para tokoh cendekia aksi Reuni 212 sangat kental dengan nuansa politik. Meskipun para panitia Reuni 212 mengatakan bahwa peristiwa tersebut merupakan aksi gerakan moral.

Misalnya saja dari AS Hikam, selaku akademisi Ilmu Politik dari President University, ia mengatakan bahwa aksi ini merupakan aksi yang masih sama dengan aksi yang dilakukan sebelumnya.

“Reuni 212 ini rasanya masih sama dengan rentetan aksi yang sebelumnya,” Ungkapnya yang dilansir dari YouTube CNN Indonesia dengan judul “Pengamat: Reuni 212, Bikin Deg-degan Kubu Jokowi, Prabowo di Atas Angin”, Senin (3/12/2018).

Kemudian ada tokoh Budayawan, yaitu Mohamad Sobari yang juga tak setuju jika Reuni 212 itu merupakan sebuah aksi gerakan moral.

Ia menilai bahwa gerakan ini kental dengan nuansa politik, dan orang awam pun bisa melihat itu.

“Gerakan moral itu beda nuansanya, beda wujudnya, beda cita-citanya, dan cita rasanya sekaligus. Ini cita rasanya, ya politik, bau-baunya ya politik. Orang tidak perlu jadi ahli politik untuk menyebut bahwa ini peristiwa politik,” Ujar Mohamad Sobari masih dalam tayangan yang sama.

Kemudian tanggapan dari tokoh lain datang dari Mahfud MD yaitu mantan ketua mahkamah konstitusi RI, ia mengatakan bahwa tingkat keimanan seseorang tidak bisa ditentukan dari datang atau tidaknya seseorang ke aksi Reuni 212.

Mahfud MD berpendapat mengenai Reuni 212

“Hadir ke Reuni 212 bukan ukuran keimanan. Sy yakin banyak yg tdk hadir di sana imannya lebih kuat dan lbh lbh paham urusan agama daripada umumnya yg hadir. Sebaliknya banyak jg yg hadir di sana imannya tak lbh kuat. Jadi tak bisa digebyah-uyah sesederhana itu. 212 bkn soal iman,” tulis Mahfud di akun Twitternya.

Kemudian Mahfud MD juga membalas komentar netizen mengenai cuitan yang ia tulis pada akun Twitternya,

“Terserah Anda saja. Coba baca, saya hanya menjawab Sukman yang mengaitkan iman dgn kehadiran di Reuni 212. Mau hadir atau tidak, tak usah dikaitkan dgn iman. Mau hadir ya saja, boleh. Mau tak hadir juga boleh. Ini soal demokrasi, tak boleh ada yg memaksa atau melarang,” tulis Mahfud MD saat membalas komentar netizen.

Setelah itu, Iwan Fals juga ikut memberi tanggapan perihal Reuni 212 yang sedang ramai diperbincangkan.

Ia mengatakan bahwa Acara Reuni 212 sebaiknya diadakan 3-4 kali dalam setahun. Dan salah satu manfaatnya adalah silaturahmi,

“Saya usul 3 atau 4 kali dalam setahun acara itu diselenggarakan, bukan soal 212-nya tapi ini soal silaturahminya, soal kesadaran lingkungan, soal persatuan, soal menghidupi pedagang2 kecil, dan kegiatan ekonomi sekitarnya, sekalian latihan klo mau naik hajilah” tulis Iwan Fals pada akun twitternya.

Setelah cuitannya ramai diserang netizen, Iwan Fals memberi keterangan tambahan.

Tanggapan Iwan Fals ini tidak jelas, apakah maksudnya bercanda, menyindir ataupun memberi semangat.

Bagaimanapun juga, Aksi Reuni 212 bisa berjalan dengan tertib dan aman tanpa ada pertikaian apapun.