Ajaran Buddha Tentang Kematian

21

Sang Buddha pernah berkata bahwa : “kehidupan itu tidak pasti, tapi kematian pasti”. Bahwa kematian pasti akan datang dan merupakan suatu akhir yang wajar. Tapi harus dihadapi setiap makhluk dan sebenarnya kita tidak perlu takut akan itu.

Oleh karena itu kita tidak ingin mengingat-ingat bahwa kematian itu tak terelakan dan terus melekat pada kehidupan. Berikut ini beberapa ajaran agama buddha tentang kematian yang harus kita selami sedalam-dalamnya.

1. Diawali dengan Kebahagiaan, Diakhiri Dengan Tangis

Lahirnya seorang anak ke dunia membawa kebahagiaan hampir bagi seluruh manusia. Meskipun sang ibu harus menanggung penderitaan hebat pada saat melahirkan. Maka kelahiran di dunia ini juga menunjuk menunjukan penderitaan yang ditanggung dalam tangis.

Akan tetapi manusia yang dirawat dengan hati-hati tetap akan lapuk melemah. Sampai akhirnya menimbulkan kesedihan karena harus berpisah dengan raga. Hal yang memang sukar diterima tapi tak dapat dihindarkan setiap orang. Kematian yang datang dipandang sangat menakutkan.

2. Rasa Takut Mati

Manusia merasa terganggu pandangan mereka terhadap kematian. Sebenarnya hal ini tidak perlu ditakutkan karena rasa ngeri hanya muncul dalam pikiran. Hal ini dapat membantu mengurangi atau menghilangkan rasa takut mengadapi kematian. Kita telah mengetahui ilmu mengajarkan pula proses kematian.

Kematian pun hanya merupakan suatu proses pelapukan fisik tubuh manusia. Meskipin kematian tampak seperti tragedi yang besar. Bahkan Sir William Oslet, dokter termahsyur, mengatakan “Sebenarnya banyak orang yang meninggal tanpa rasa sakit atau takut,”.

3. Penyakit dan Kematian

Penyakit merupakan gejala wajar dalam peristiwa kehidupan sehingga harus diterima dengan keseimbangan batin. Terkadang memang manusia mengalami tekanan mental yang berat karena penolakan untuk menghadapi dan menerima kenyataan. Manusia hanya bagian dari kehidupan di alam semesta.

Kematian tidak seharusnya ditakuti oleh mereka yang bersih dalam pikiran dan perbuatan. Umat Buddha di harapkan untuk tidak tenggelam ke dalam ratap tangis dan juga kesedihan yang sangat hebat dalam menghadapi kematian yang akan terjadi. Baik itu dari sanak saudara dan teman karena roda kehidupan terus berputar.

Pengaruh Manusia

Sang Buddha berkata, “Tubuh manusia dapat berubah menjadi debu, namun pengaruhnya tetap bertahan,”. Setiap manusia yang hidup di dunia ini dapat diakatakan merupakan susunan dari semua nenek moyang yang mendahului. Maka insan manusia yang menyadari bahwa hidup mereka hanya seperti tetes air di sungai yang terus mengalir.

Perkataan itu mengaratikan bahwa manusia yang memberikan andil bagi arus besar kehidupan, bakal merasa bahagia. Sedangkan mereka akan terhempas dari dunia jika lupa kewajaran hidup. Lagipul putaran kelahiran dan kematian harus berusaha diatasi oleh manusia.

Filsafat dan Kesedihan Kematian

Ini menguraikan suatu dasar yang di atasnya dibangun bangunan filsafat agama Buddha. Sebab dari kesedihan dan penderitaan manusia ialah kemelekatan atau Tanha dalam segala bentuknya. Jika kita ingin menghentikan kesedihan, maka kita harus membuang kemelekatan, baik kemelekatan terhadap manusia, maupun terhadap harta benda.

Marilah kita melihat bagaimana Sang Buddha menyelesaikan masalah kematian yang menimpa dua orang. Penderitaan kesedihan yang hebat adanya kematian adalah kemelekatan mereka. Sementara sang Buddha, tidak penah menemukan keluarga yang tidak pernah mengalami kematian.

Kematian Berlaku di Seluruh Alam Semesta

Tidak ada satu pun yang dapat lolos dari kematian. Kematian akan menyerang semua makhluk dan itu berlaku di mana pun. Maka dari itu setiap makhluk hidup harus dapat menerima kematian. Seperti yang dicoba Sang Buddha untuk mewaraskan bahwa penderitaan kematian ayah, ibu, anak dan sanak kerabat adalah sesuatu gejala yang wajar.

Lima Kelompok Kematian

Kematian menurut definis yang terdapat dalam kitab suci Agama Buddha adalah hancurnya Khanda. Yaitu adalah lima kelompok yang terdiri dari:

  • Pencerapan
  • Perasaan
  • Bentuk-bentuk pikiran
  • Kesadaran
  • Tubuh jasmani atau materi

Kelahiran Kembali

Hukum karmalah yang melakukan ke semua ini. Yakni dengan segera menempatkan kembali kelompk-kelompok tersebut yang dikenal sebagai kelahiran kembali. Pendekatan diri dengan cara dari berbagai jenis kelompok jasmani yang dihasilkan oleh sepasang orang tua.

Salah satu peluang terjadi melalui kematian yang bekerja memberikan kelahiran kembali kepada meninggal dunianya seseorang. Tapi suatu kelahiran kembali yang tidak menyenangkan merupakan hasil dari pikiran tak baik.

Unsur dan Tenaga

Sifat tenaga-tenaga karma adalah pengertian yang benar dalam hal ini. Juga mental, unsur-unsur dan kerja sama dengan tenaga alam semesta yang sangat penting untuk diketahui. Kejadian ini sederhana dan wajar bagi orang-orang.

Yakni kematian hanya berarti meleburnya kelima unsur dengan yang sama sehingga mereka tidak tersisa. Sementara itu ada pula kelompok orang yang berpendapat bahwa kematian adalah berpindahnya jiwa dari satu tubuh ke tubuh lainnya. Ada juga yang menganggap kematian itu merupakan masa transisi.

Sebab Terjadinya Kematian

Menurut agama Buddha, kematian disebabkan oleh hal-hal berikut:

  • Kematian dapat disebabkan oleh habisnya masa hidup sesuatu makhluk tertentu (Ayu-Khaya)
  • Kematian yang disebabkan oleh habisnya tenaga karma telah membuat terjadinya kelahiran dari makhluk tersebut (Kamma-Khaya)
  • Kematian yang disebabkan berakhirnya kedua sebab di atas secara berturut-turut (Ubhayakkhaya)
  • Kematian yang disebabkan oleh keadaan luar, yaitu kecelakaan, kejadian tidak pada waktunya atau gejala alam dari suatu karma (Upachedakka)