7th ATTS Mengangkat Citra Tekstil Tradisional di Pasar Dunia

20
textile

Kegiatan Simposium dan Pameran textile berskala Internasional 7th Asean Tradisional Textile Simposium (ATTS) 2019 kembali diselenggarakan pada 4-8 November 2019. Tahun ini, Yogyakarta mendapat kehormatan menjadi tuan rumah dari forum pertemuan para pelaku usaha dibidang tekstil tradisional tersebut.

Wakil Ketua Panitia , GKBRAA Paku Alam mengungkapkan, pada pelaksanaan yang ketujuh kalinya tahun ini, kegiatan ATTS mengusung tema “Embracing Change, Honoring Traditions”. Inti dari tema tersebut adalah merangkul perubahan tanpa meninggalkan tradisi. Karena itu melalui kegiatan ini diharapkan makin mengangkat eksistensi tekstil tradisional ke kancah internasional.

“Kita harapkan produk-produk tekstil kita nantinya dapat lebih dikenal oleh warga dunia, sehingga dapat berdampak pada kesejahteraan perajin.“ ujar GKBRAA Paku Alam di Puro Paku Alaman Selasa (29/10/2019).

Ditambahkannya, antusiasme peserta terhadap acara ini cukup tinggi. Berdasarkan catatan Panitia, peserta tidak hanya datang dari negara-negara ASEAN, tetapi peserta yang berasal dari Jepang, Korea Selatan, India, Inggris, Uzbekistan, Australia, dan Cina juga terlibat dalam hajatan besar kain tradisional ini.

Bahkan menurut rencana, Ibu Negara Hj. Iriana Joko Widodo direncanakan hadir secara khusus untuk memberikan sambutan sekaligus membuka kegiatan ini. Kegiatan simposium ini secara umum diadakan untuk memperkenalkan wastra (kain tradisional) dari masing-masing negara. Selain itu juga untuk mengedukasi masyarakat mengenai wastra. Khususnya misi kegiatan ini adalah untuk memajukan pengetahuan ilmiah tekstil tradisional dalam hal materi, motif, dan teknik.

Selain itu juga untuk memelihara himpunan pencinta tekstil tradisional Asia Tenggara, dan sebagai upaya untuk mengembangkan strategi agar produktivitas dan kualitas pengrajin tekstil Asia Tenggara dapat meningkat.

GKBRAA Paku Alam mengingatkan, dengan adanya pasar bebas, pengaruh modernisasi tak dapat dihindarkan. Namun, nilai-nilai tradisi hendaknya tetap dipertahankan, baik dalam bentuk motif, pola maupun cara pengerjaan yang masih mengandalkan kerja tangan manual atau hand made. Karena itu, melalui symposium dan pameran ini diharapkan dapat tercapai pemikiran bersama antara para pengusaha teksil se-Asean tentang permasalahan tersebut.

Selain symposium, kegiatan ATTS 2019 ini juga dimeriahkan dengan kegiatan lain seperti kompetisi desain wastra, kompetisi fotografi fashion, serta fieldtrip sejumlah lokasi sentra perajinan. Harapannya, selain mengenal produknya, peserta symposium juga mengenal lokasi pembuatan kerajinan tersebut. Sejumlah lokasi yang direncanakan akan dikunjungi antara lain Sentra Batik Tradisional Giriloyo, Pabrik Tas Rahut Dowa serta Museum Batik Afif Syakur.

Sedangkan untuk kegiatan Fashion on The Street karya binaan BRI yang digawangi oleh disainer Lia Mustafa. Menurut rencana peragaan busana ini akan digelar di Pendapa Ambarrukmo pada 7 November mendatang.